Jumat, 22 September 2017

contoh proposal pengaruh peredaran berita hoax penculikan anak di media sosial facebook terhadap perilaku masyarakat


BAB I
PENDAHULUAN
1.1        Latar Belakang
            Era globalisasi ditandai munculnya keberagaman media informasi, dimulai dengan media massa dalam bentuk media cetak, lalu media elektronik dengan kelebihan audio visual, hingga sekarang terjadi lagi pergeseran yang amat drastis. Jika dulu media hanya merupakan sumber informasi, dan informasi tersebut hanya diberikan atau dipublikasikan dengan satu arah, kini media jauh lebih interaktif (Rogers, 1986:23). Khalayak tidak lagi sekedar sebagai objek sasaran informasi, tetapi khalayak telah dilibatkan jauh lebih aktif karena kemajuan teknologi yang menyebabkan interaksi di media bisa terjadi. Otomatis kenyataan ini membawa perubahan pada sisi khalayak, terutama dalam segi hal kepuasan terhadap informasi yang di dapat.
            Informasi yang dibawa media menimbulkan berbagai permasalahan. Bagi masyarakat, dapat mengakibatkan mulai dari kecanduan menonton tayangan televisi, bermain game online, chating melalui jejaring sosial konten pornogerafi internet, infotaiment, hingga berita kriminal. Masyarakat dengan mudah mengkonsumsi informasi yang mereka terima dari media tersebut. Menurut Postman dalam Ricard West dan Lyyn H. Turner (2009 : 42) menyatakan bahwa percaya perkembangan pesat dalam teknologi baru dapat berbahaya bagi masyarakat, kita telah melihat pertumbuhan yang besar dalam mengakses dan menerima informasi.
            Kehadiran  beragam media-media baru salah satunya media sosial Facebook  yang sekarang lagi diserbu penggemarnya dari kalangan remaja, orang dewasa dan orang tua sekarang ini, karena kemudahannya dalam membuat akun dan cara daftar dan login ke facebook  membuat masyarakat merasa dimanjakan oleh media sosial yang satu ini karena kemudahannya dalam mengakses dan menyebarluaskan apa saja yang ingin mereka tuangkan pada kiriman mereka, membuat mereka berketerusan untuk mengakses. Media sosial yang sampai saat ini menjadi kegemaran masyarakat indonesia adalah facebook.
            Facebook merupakan salah satu jejaring sosial yang sangat digemari dikalangan masyarakat. Pengertian facebook menurut Wikipedia berbahasa indonesia adalah sebuah situs web jejaring sosial populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebook juga dapat diartikan sebuah web jejaring sosial yang didirikan oleh Mark Zuckerberg dan diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebok memungkinkan para pengguna menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personal lainnya dan dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi d engan penguna lainnya.
Seiring dengan perkembangan zaman yang semakin modern, penggunaan Facebook saat ini sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuk seluruh kalangan masyarakat khususnya masyarakat pedesaan karena penggunaan internet sudah bukan merupakan barang yang  mahal. Jejaring sosisal ini sangat membantu dalam menjalin pertemanan, mencari hiburan, membagikan dan menerima informasi, membina hubungan personal, atau bahkan cahtingan, wall sesama teman penggunanya juga dapat menjadi sebuah media yang dapat memberikan dampak Positif ataupun negatif bagi masyarakat yang selalu menerima informasi yang diberikan facebook.
Dampak Positif dari facebook seperti menambah pertemanan dan dapat menemukan teman-teman lama karena hampir semua orang menggunakan media sosial facebook, berbisnis online, membuat sebuah grup desa ataupun instansi lainnya, tempat media pembelajaran, mengirim informasi lowongan kerja, kerabat yang meninggal dunia, membuat status motivasi, berbagi resep makanan dan lain-lain, adapun dampak negative dari facebook seperti Penyebaran foto-foto yang tidak sopan, berteman dan berkomunikasi secara bebas sehingga menimbulkan kecemburuan dan perceraian, membuat seseorang menjadi serba ingin tahu urusan orang lain, banyak beredar kata-kata kasar, pamer, gejala kenarsisan, menyebabkan seseorang mengalami kesulitan untuk membedakan hal nyata dan tidak nyata, seperti sekarang maraknya berita-berita hoax (palsu).
Peredaran berita (Hoax) seperti berita penculikan anak. Hoax adalah sebuah pemberitaan palsu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa berita tersebut palsu.
Masyarakat diresahkan dengan munculnya informasi di akun jejaring sosial facebook milik Aqila Salsabilah yang diakses pada 12 Maret 2017 terkait penculikan anak, yang disebutkan bahwa penculik itu sudah ada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Isu itu membuat para orangtua yang memiliki anak khawatir. Seperti juga yang di unggah oleh akun jejaring sosial facebook milik Dede Triawan yang diakses pada 14 Maret 2017 yang menguploat gambar selembaran kertas yang bertuliskan  Ciri-ciri pelaku kerap menyamar seperti orang kurang waras, pemulung, dan beberapa lainnya. Benar atau tidak, yang jelas desas-desus ini berdampak terhadap beberapa hal. Kapolri  Tito Karnavian menyatakan, kabar penculikan anak melalui pesan berantai serta di dunia maya tidak benar atau hoax. Kabar tersebut beberapa waktu terakhir beredar di sejumlah wilayah di tanah air. Menurut Kapolri Tito, penyebar isu penculikan anak sengaja memanfaaatkan momentum keramaian pemilihan kepalah daerah untuk menaikan isu tersebut, tujuannya selain menimbulkan keresahan di tenagh masyarakat, juga ingin mendelegitimasi wibawa pemerintah JAKARTA, KOMPAS.com.
Fenomena masyarakat Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan merupakan kalangan masyarakat yang aktif dalam menggunakan facebook. Sehingga peneliti perlu untuk melakukan penelitian  lebih lanjut mengenai pengaruh yang ditimbulkan akibat peredaran berita hoax penculikan anak di sosial media facebook di kehidupan sosial di kalangan masayarakat Baik bersifat negatif maupun positif. Saat ini banyak masyarakat yang mengikuti arus media komunikasi dalam teknologi yang memilih facebook sehingga peneliti mengambil judul penelitian ini dengan “Pengaruh Peredaran Berita Hoax penculikan anak di Media Sosial Facebook Terhadap Prilaku Mayarakat : Studi Kasus Pada MasyarakatDesa Kasih Raja Kec. Lubuk Keliat, Kab.Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan”.
1.1       Identifikasi Masalah
1)      Peredaran Berita Hoax Penculikan anak di Media Sosial Facebook Mendapat Respon dari Masyarakat
2)      Masyarakat lebih memilih Membagikan dari pada membaca Berita Berita Hoax
3)      semangkin Beredarnya Berita Hoax Penculikan anak dapat Mempengaruhi Masyarakat
1.3       Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang, maka penulis merumuskan permasalahan penelitian ini adalah : Apakah Peredaran berita Hoax punculikan anak di Media Sosial Facebook  berpengaruh Terhadap Prilaku masyarakat di Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan ?
1.4       Batasan Masalah
Berita Hoax Penculikan Anak yang telah ditemukan peneliti maka peneliti memberikan batasan masalah pada masalah tersebut serta ruang lingkupnya agar dalam melakukan penelitian nantinya tidak akan melebar dan dapat mempermudah dalam melakukan analisa. Batasan tersebut yaitu :
X         =  Berita Hoax
            Y         =  Perilaku Masyarakat
1.5       Tujuan Penelitian
 Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada/tidak adanya Pengaruh Peredaran Berita Hoax Punculikan anak di Media Sosial Facebook Terhadap Prilaku Masyarakat Desa Kasih Raja Kecamatan. Lubuk Keliat, Kabupaten. Ogan Ilir,  Provinsi Sumatera Selatan.
6.         Manfaat Penelitian
6.1       Manfaat Akademis
Manfaat penelitian ini dapat memberikan kontribusi pengalaman untuk peneliti dalam Memilih Antara Berita Hoax dan Berita  Fakta.
1. Bagi penulis, sebagai bahan untuk menambah wawasan dan pengetahuan bagi diri  penulis khususnya pengetahuan pengaruh berita hoax di media bagi pengguna (User) media sosial.
2.   Bagi pengguna (User) media sosial terkhusus Masyarakat Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan Ilir Sumatera Selatan.
6.2       Manfaat Praktis
 Penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dan sumbangan ilmu dalam bidang komunikasi khususnya mengenai Pengaruh dari peredaran Berita Hoax.
1.      Bagi pemerintah, dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik diharapkan dapat lebih memahami melaksanakan tugasnya dan perannya dengan baik.
2.      Bagi Jurusan/ Fakultas, Untuk dijadikan bahan bacaan dan menambah literatur di jurusan Ilmu Komunikasi perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Binadarma Palembang.



BAB II
LANDASAN TEORI
2.1.      Hasil Penelitian Terdahulu
Kajian penelitian Budi Mansyah, (2017) dengan jurnalnya yang berjudul “Penomena Berita Hoax Media Sosial facebook Dalam Menghadapi Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan bentuk dan saluran, apa saja motif dari penyebaran berita hoax dan interaksi sosial fenomena berita hoax di sosial media facebook. Teori yang digunakan adalah teori fenomenologi oleh Schulz dan S.O.R (Stimulus-Organisem-Respons), metode yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, para pengguna facebook memaknai berita hoax media sosial menjelang pemilu DKI Jakarta meresahkan dan harus segera ditindak oleh Pemerintah sebagai pemangku regulasi. Sama-sama membahas tentang berita hoax di media sosial facebook dan menggunakan teori yang sama, perbedaannya penulis membahas tentang penculikan anak di media sosial facebook sedangkan peneliti terdahulu membahas tentang pemilihan umum Gebernur DKI Jakarta Tahun 2017.
Kemudian Feranita, F. (2017) dengan jurnalnya yang berjudul” Pengaruh Media Sosial Facebook  Terhadap Hasil belajar Akidah Akhlak di MA Syamsul Ulum Kota Suka Bumi Jawa Barat” penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh media sosial facebook terhadap hasil belajar aqidah akhlak di MA. Syamsul Ulum Kota Sukabumi. Teori yang digunakan yaitu teori S.O.R (Stimulus-Organisem-Respons) dan Metode yang dipakai dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif. Hasil penelitian ini mengatakan  bahwa tidak terdapat pengaruh media sosial  facebook  terhadap hasil belajar siswa di MA. Syamsul Ulum. Kesamaan dalam penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang  pengaruh Media Sosial facebook dan perbedaannya penulis membahas tentang berita hoax penculikan anak di media sosial facebook, sedangkan peneliti terdahulu membahas tentang mata pelajaran agama.

2.2.      Kerangka Teoritis
2.2.1    Teori S-O-R
Penelitian ini model yang digunakan adalah model S-O-R (Stimulus, Organism, Respon). Teori SOR sebagai singkatan dari Stimulus-Organism-Response. Objek materialnya adalah manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen  : sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi (McQuail, 2010:466).
Menurut model ini, organism menghasilkan perilaku tertentu jika ada kondisi stimulus khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Asumsi dasar dari model ini adalah : media massa menimbulkan efek yang terarah, segera dan langsung terhadap komunikan. Stimulus Respon Theory atau S-R Theory. Model ini menunjukan bahwa komunikasi merupakan proses aksi-komunikasi. Artinya model ini mengasumsi bahwa kata-kata verbal, isyarat non verbal, simbol-simbol tertentu akan merangsang orang lain memberikan respon dengan cara tertentu. Teori ini merupakan prinsip yang sederhana dimana efek merupakan reksi terhadap stimulus tertentu. Dengan demikian, seorang dapat menjelaskan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media dan reaksi audience.
Menurut McQuail, (2010:467) Teori yang melandasi penelitian ini adalah teori S-O-R  yang berkeyakinan bahwa penyebab sikap yang dapatberubah tergantung pada kualitas rangsang yang berkomunikasi dengan organisme. Inti dari teori ini adalah bahwa setiap proses efek media terhadap individu, harus diawali dengan perhatian atau terpaan oleh beberapa pesan media. Hasilnya menjangkau waktu dan membuat suatu perbedaan, seringnya pada orang dalam jumlah banyak. Hal ini menunjukan masyarakat dan para orang tua mendapatkan stimulus yaitu terpaan pesan dari berita-berita penculikan anak, dan kemudian pada jangkah waktu tertentu menciptakan suatu perbedaan (pengaruh) terhadap mereka.
            Adapun keterkaitan model S-O-R dalam penelitian ini adalah :
a.       Stimulus yang dimaksud adalah pesan yang disampaikan dalam sosial media facebook.
b.      Organisme yang dimaksudkan adalah masyarakat desa kasih raja kec.lubuk keliat, kab.ogan ilir, palembang.
c.       Respon yang dimaksud adalah perubahan perilaku di kalangan masyarakat pengguna.
Menurut Hosland, et al (1953) dalam McQuail, (2010:464) mengatakan bahwa proses perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada masyarakat yang terdiri dari :
1.      Stimulus (rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak efektif mempengaruhi perhatian masyarakat dan berhenti disini. Tetapi bila stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari masyarakat dan stimulus tersebut efektif.
2.      Apabila stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti stimulus ini dilanjutkan kepada proses berikutnya.
3.      Setelah itu organisme mengelolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan untuk  bertindak demi stimulus yang telah diterimanya (bersikap)
4.      Akhirnya dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut mempunyaiefek tindakan dari masyarakat tersebut (perubahan perilaku).
teori ini mengatakan bahwa perubahan perilaku dapat beruba hanya apabila stimulus (rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus dapat meyakinkan organisme ini, reinforment memegang peranan penting.
Stimulus atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkinditerima atau mungkin ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika perhatian komunikan. Proses berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan proses berikutnya Setelah mengolahnya dan menerimanya, Maka terjadilah kesedian untuk mengubah sikap.
            Teori ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung kepada kualitas rangsang (stimulus) yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (soerces) misalnya kredibilitas, kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku seseorang, kelompok atau masyarakat.
Teori S.O.R (Stimulus-Organism-Response) merupakan proses komunikasi yang menimbulkan reaksi khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan. Unsur-unsur pada model ini adalah pesan (Stimulus), komunikan (Organism), dan efek (Response) (Effendy, 2003:254).
2.3       Komunikasi
2.3.1    Defenisi Komunikasi
Menurut Brent D. Ruben (dalam Arni, 2014 : 3) komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan, mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial yang menjalankan interaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Komunikasi merupakan suatu proses sosial yang mendasar dan vital dalam kehidupan  manusia. Hal ini dikarenakan setiap manusia, baik yang tradisional maupun modern selalu menjalankan proses komunikasi, ini berhubungan dengan cara bagaiamana manusia mempertahankan hidupnya dengan cara melakukan komunikasi (lasswell, 2005:38) baik menggunakan  komunikasi verbal (bahasa dan lisan) maupun non verbal (berupa simbol, lambang, dan gesture tubuh).
Istilah komunikasi atau comunication dalam bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis yang berarti “sama” communico, communicatio, atau communicare yang berarti “membuat sama” (to make common). Istilah pertama (communis) paling sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna, atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi kontemporer menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal tersebut, seperti dalam kalimat ‘kita berbagi pikiran,” “kita berbagi makna,” dan “kita mengirimkan pesan.” ( Mulyana, 2005:38).
2.3.2    Model Komunikasi
            Salah satu model komunikasi tua tetapi masih digunakan orang untuk tujuan tertentu adalah model komunikasi yang dikemukakan oleh Harold Lasswell : Forsdale 1981, (dalam Arni, 2014 : 5)

Gambar 1
Efek
Saluran
(Medium)mm)m
Apa
(Pesan)
Siapa
(Audien)
Siapa
(Pembicara)w
Model Komunikasi Lasswell (dalam Arni, 2014 : 5)
                                                                                                           = 
                                                 
Sumber Model Komunikasi Lasswell, (dalam Arni, 2014 : 5)

a.       Who (siapa)
Menunjuk kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk memulai komunikasi. Yang memulai komunikasi dapat juga berupa seseorang dan dapat juga sekelompok orang seperti organisasi atau persatuan.
b.      Says what (apa)
      Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan isi komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut. Umumnya kita menanyakan pertanyaan ini dalam pemikiran kita dalam berkomunikasi tersebut.
c.       To whom (penerima)
Menanyakan siapa yang menjadi audience atau penerima dari komunikasi. Atau dengan kata lain kepada siapa komunikator berbicara atau kepada siapa pesan yang ia ingin sampaikan diberikan.
d.      Through what (media apa)
     Yang dimaksudkan dengan media adalah alat komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak mata, sentuhan, radio, televisi, surat, buku dan gambar. Yang diperhatikan dalam hal ini adalah tidak semua media cocok untuk maksud tertentu.
e.       What effect (apa efeknya)
Pertanyaan mengenai efek komunikasi ini dapat menayakan 2 hal yaitu apa yang imgin dicapai dengan hasil komunikasi tersebut dan apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi.


2.4         Komunikasi Massa
2.4.1      Defenisi Komunikasi Massa
              Macam-macam jenis komunikasi, seperti komunikasi interpersonal, komunikasi antar personal, komunikasi kelompok, komunikasi organisasi dan komunikasi massa. Jenis-jenis komunikasi ini memiliki unsur-unsur komunikasi san juga fungsi-fungsi komunikasi yang sama, yang membedakannya hanyalah sasaran pada komunikasi tersebut. Komunikasi antrar pribadi berbicara mengenai komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri, antar pribadi dengan satu atau dua orang, komunikasi kelompok dengan jumlah komunikan yang lebih banyak dari komunikasi natar pribadi. Namun komunikasi massa yang konteksnya mengenai penyampaian pesan dengan khalayak luas.
              Komunikasi massa mengalami perubahan yang sangat pesat  dan apa  yang dianggap sebagai kemajuan hari ini akan dianggap kuno esok harinya Seperti Teori Turkle 1998 dalam Ricard West Lyyn H. Turner (2009: 42 ), menyatakan  bahwa komputer  mungkin akan mengubah pemahaman kita terhadap diri sendiri, dalam hal ini dapat mempengaruhi  proses komunikasi.
2.4.2.   Pengertian Komunikasi Massa
     Komunikasi Massa adalah jenis komunikasi yang ditujukan kepada khalayak luas, bersifat heterogen dan menimbulkan media-media elektronik sehingga memudahkan informasi atau pesan sampai dalam waktu yang sama.               Menurut Jay Black Fredirck C (Nurdin, 2006:12) mendefiniskan komunikasi massa adalah sebuah proses dimana pesan-pesan di produksi secara massal atau tidak sedikit, ini disebabkan karena massa pada penerima dalam komunikasi massa bersifat luas , anonim, dan heterogen.
Berdasakan pengertian mengenai komunikasi yang diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi massa adalah komunikasi yang menggunakan media massa baik dalam bentuk media cetak maupun elektronik, ditujukan kepada khalayak luas, yang bersifat anonim dan heterogen.
Penulis menyimpulkan dari beberapa terpaan media tersebut, terpaan media adalah banyaknya informasi yang diperoleh dari media melalui kegiatan mendengar, melihat, dan membaca informasi  media massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut dalam memperoleh informasi.
2.4.3.   Karakteristik Komunikasi Massa
            Karakteristik komunikasi massa sebagai berikut (Arikunto, 2004:7-13) :
a.       Komunikator terlembagakan
Karakteristik yang pertama si pemberi pesan (komunikator), komunikasi massa harus dilakukan oleh lembaga atau organisasi yang cukup kompleks.
b.      Pesan bersifat umum
Pesan komunikasi massa bersifat umum. pesannya dapat berupa fakta, peristiwa atau opini. Ini disebabkan karena komunikasi massa bersifat terbuka dan ditujukan untuk masyarakat luas.
c.       Komunikannya Anonim dan Heterogen
Dalam komunikasi massa, komunikator (pemberi pesan) tidak mengenal komunikannya (penerima pesan). Karena proses komunikasi tidak secara langsung tatap muka, melainkan menggunakan media massa.
d.      Media Massa menimbulkan keserempakan
Komunikasi massa dengan daya penyebaran pesannya yang cukup luas dan bahkan tidak terbatas memiliki kelebihan, yaitu mampu memberikan informasi yang seragam dalam waktu bersamaan kepada komunikannya.
e.       Komunikasi mengutamakan isi ketimbang hubungan
Prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai dimensi isi dan hubungan.
f.       Komunikasi massa bersifat satu arah
Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan aktif juga menerima pesan. Namun, keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana komunikasi antarpersonal.
g.      Stimulus alat indera terbatas
Berbeda dengan komunikasi antarpersonal yang dapat mengoptimalkan seluruh alat indra, komunikasi massa terbilang cukup terbatas. Penggunaan alat indra tergantung pada jenis media massa.
h.      Umpan balik tertunda
Umpan balik (Feedback) adalah faktor penting dalam proses komunikasi antarpersonal, komunikasi kelompok, dan komunikasi massa. Namun komunikasi massa memiliki umpan balik yang tertunda (delayed).
2.4.4.   Bentuk-Bentuk Media Massa
Media pada dasarnya dapat dibagi menjadi dua kategori, yakni media massa cetak dan media elektronik. Media cetak dapat memenuhi kriteria sebagai media massa adalah surat kabar dan majalah. Sedangkan media elektronik yang memenuhi kriteria media massa adalah radio dan televisi, film, media on-line (internet). Setiap media cetak memiliki karakteristik yang khas. Bab ini akan membahas mengenai media massa secara perinci.
a.                   Surat Kabar
b.                  Majalah
c.                   Radio Siaran
d.                  Televisi
e.                   Film
f.                   Komputer dan Internet
Menurut Laquey (1997 dalam buku Ardianto, lukiati, dan Siti), asal mula internet tercipta oleh suatu ledakan tak terduga di tahun 1969, yaitu dengan lahirnya Arpanet, suatu proyek eksperimen kementerian pertahanan Amerika Serikat bernama DARPA (Departemen of Defense Advanced Research Projects Agency). Misi awalnya sederhana, yaitu mencoba menggali teknologi jaringan yang dapat menghubungkan para peneliti dengan berbagai sumber daya yang jauh seperti sistem komputer  dan pangkalan data yang besar. Arpanet berhasil membantu membudip-dayakan  sejumlah jaringan lainnya, yang kemudian saling berhubungan.
Pertumbuhan dan kelarisan internet dapat dibandingkan dengan perkembangan mesin faksimili pada akhir dasawarsa 1980an. Siste m faksimili yang mendunia itu tidaklah dibangun dalam waktu semalam, ia berkembang dari beberapa mesin faksimili di sini dan di sana. Ketika kalangan bisnis mulai menyadari akan manfaat dan daya gunanya, kehadiran mesin faksimili menjadi hal yang lumrah. Nilai setiap mesin faksimili terus meningkat dan semakin mudah untuk diperoleh.
pertumbuhan jenis sumberdaya yang terakses melalui internet sungguh mencengangkan. Istilah sumberdaya menyatakan segala sesuatu yang dapat mengakses pada internet, tak peduli diamanpun lokasinya. Informasi yang tersedia di internet jumlahnya terus meningkat. Internet ibarat cairan yang berubahsetap detik, begitu beritanya mengalir, amka pandangan yang berbeda, laporan dan aneka pendapat mengairi berbagai arsif dan forum.
2.5       Media
2.5.1    Defenisi Media
            Secara sederhana, istilah media bisa dijelaskan sebagai alat komunikasi sebagaimana defenisi yang selama ini diketahui, Menurut Laughey,2007: McQuail, 2003 (dalam Nasrullah, 2017:3). Media yang muncul bersamaan dengan itu adalah sarana disertai dengan teknologinya. Koran merupakan representasi dari media cetak, sementara radio yang merupakan media audio dan televisi sebagai media audio-visual merupakan representasi dari media elektronik, dan internet merupakan representasi dari media online atau dalam jaringan.
            Terlepas dari cara pandang melihat media dari bentuk dan teknologinya, pengungkapan kata “media” bisa dipahami dengan melihat dari proses komunikasi itu sendiri (Meyrowitz, 1999 : Moores, 2005 : Wiliams, 2003). Proses terjadinya komunikasi memerlukan tiga hal yaitu, objek, organ, dan medium.
            Beragam kriteria bisa dibuat untuk melihat bagaimana media itu. Ada yang membuat kriteria media berdasarkan teknologinya, seperti media cetak yang menunjukkan bahwa media tersebut dibuat dengan mesin cetak dan media elektronik yang dihasilkan dari perangkat elektronik. Dari sumber atau organ yang menjelaskan bagaimana cara mendapatkan atau bagaimana kode-kode pesan itu diolah, misalnya media audio-visual yang diakses menggunakan organ pendengaran dan penglihatan. Ada juga yang menuliskan bagaimana pesan itu disebarkan. Contohnya, media penyiaran (broadcast) dimana media merupakan pusat produksi pesan, seperti stasiun televisi, dan pesan itu disebarkan serta bisa dinikmati oleh siapa saja asal memilki pesawat televisi. Atau berdasarkan teknologi, pola penyebaran, sampai pada bagaimana khalayak mengakses media, seperti media lama(old media) dan media baru (new media).
            Membagi media kriteria-kriteria tertentu akan memudahkan siapa pun untuk melihat media. Ada tiga ungkapan untuk melihat medium menurut Meyrowitz 1999 (dalam Nasrullah 2017:4) yaitu : Medium sebagai saluran (medium-as-vessel/conduit). Seperti sebuah saluran air, pipa merupakan sarana yang membawa air sesuai dengan alur yang disiapkan. Medium adalah saluran yang membawa pesanatau dalam contoh nyatanya suara adalah konten yang dibawa radio. Ketika orang ingin mendengarkan siaran pertandingan bulu tangkis melalui radio diperlukan perangkat radio untuk menangkap sinyal dari stasiun radio, hanay dalam konteks ini konten ahrus dimaknai berbeda dengan bagaimana medium ini membawanya. Betul suara atau radio adalah pesan yang dibawa oleh perangkat radio, namun yang menimbulkan reaksi adalah isi pesan. Meyrowitz, 1995, 1999 :45 (dalam Nasrullah 2017:5).
Medium adalah bahasa (medium-as-language). Medium adalah bahasa itu sendiri. Ini bermakna bahwa media memiliki sesuatu yang unik yang bisa mewakili ekspresi atau mengandung suatu pesan (Meyrowitz, 1999 : 46). Pengalaman emosi yang muncul dengan prantara medium bisa jadi sama dan berbeda antara si pembuat pesan dengan penerima pesan.
2.6       Sosial
2.6.1    Defenisi Sosial
            Kata sosial dalam media sosial secara teori semestinya didekati oleh ranah sosiologi. Inilah yang menurut Fuchs. 2004 (dalam Nasrullah 2017:6).
ada beberapa pertanyaan dasar ketika melihat kata sosial, misalnya terkait dengan informasi dan kesadaran. Ada pertanyaan dasar, seperti apakah individu itu adalah manusia yang selalu berkarakter sosial atau individu itu baru dikatakan sosial ketika ia secara sadar melakukan interaksi.
            Secara teori, ketika membahas  kata sosial, ada kesalah pahaman bahwa indiviud-individu yang ada di dalam komunitas itu tidak hanya berada dalam sebuah lingkungan. Anggota komunitas harus berkolaburasi hingga bekerja sama karena inilah karakter dari sosial itu sendiri. Fuchs, 2014 : 45, (dalam Nasrullah 2017:7).
Menurut Weber (dalam Nasrullah 2017:7), kata sosial secara sederhana merujuk  pada relasi sosial. Relasi sosial itu sendiri bisa dilihat dalam kategori aksi sosial (social action) dan relasi sosial (social relations). Kategori ini mampu membawa penjelasan tentang apa yang dimaksud  dengan aktivitas sosial dan aktivitas individual, Weber, 1978 : 26 dalam Fuchs, 2014 : 38, (dalam Nasrullah 2017:7). Namun diperlukan simbol-simbol yang bermakna di antara individu yang menjadi aktor dalam relasi tersebut.
2.7.      Media Sosial
2.7.1    Defenisi Media Sosial
            Dua pengertian tentang media dan sosial telah dijelaskan, namun tidak mudah membuat defenisi tentang media sosial  berdasarkan perangkat teknologi semata. Diperlukan pendekatan dari teori-teori sosial. Untuk memperjelas apa yang membedakan antara media sosial dan media lainnya di internet sebelum pada kesimpulan apa yang dimaksud dengan media sosial. Perlunya pembahasan khusus untuk mencari hubungan antara media dan masyarakat (Burton, 2005 dalam Nasrullah 2017:8).
            Fuchs  mengawalinya dengan perkembangan  kata web 2.0 yang dipopulerkan oleh O’Reilly (2005). Web 2.0 merujuk dari media internet yang tidak lagi sekadar penghubung anatara individu dengan perangkat (teknologi dan jaringan) komputer yang selama ini ada dan terjadi dalam web 1.0, tetapi tealh melibatkan individu untuk mempublikasikan secara bersama, saling mengolah  dan melengkapi data, web sebagai platform atau program  yang bisa dikembangkan, sampai pada pengguna dengan jaringan dan alur yang sangat panjang (the long tail).
            Berdasarkan teori-teori yang dikembangkan oleh Durkheim, Weber, Tonnies, maupun Marx, (dalam Nasrullah 2017:8) dapat disimpulakn bahwa media sosial bisa dilihat dari perkembangan bagaimana hubungan individu dengan perangkat media.
2.7.2    Karakteristik Media Sosial
            Karakteristik media sosial Menurut Castells, 2004 : Talalay et al., 1997 : Thurlow, Lengel, & Tomic, 2004 (dalam Nasrullah 2017:15) yaitu :
1.      Jaringan (Network)
Kata jaringan (network) bisa dipahami dalam terminologi bidang teknologi seperti ilmu komputer yang berarti infrastruktur yang menghubungkan antara komputer maupun perangkat keras (hardwere) lainnya.
2.      Informasi (Informatoins)
Informasi menjadi entitas yang penting dari media sosial. Mengapa? Sebab tidak seperti media-media lainnya di internet, pengguna media sosial mengkreasikan representasi  identitasnya, memproduksi konten, dan melakukan interaksi berdasarkan informasi ( informasi
3.      Arsip (Archive)
Bagi pengguna media sosial, arsip menjadi sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan bisa diakses kapanpun dan melalui perangkat apapun.
4.      Interaksi (Intractivity)
Karakter dasar dari media sosial adalah terbentuknya jaringan antarpengguna. Jaringan ini tidak sekadar memperluas hubungan pertemanan atau pengikut (follower) di internet semata, tetapi harus juga dibangun sengan interaksi antarpengguna tersebut.
5.      Simulasi (Simulation) Sosial
Media sosial memiliki karakter sebagai  medium berlangsungnya  masyarakat (society) di dunia virtual. Meski pada awal pembahasan buku ini media sosial didekati dengan teori-teori sosial, media sosial memiliki keunikan dan pola yang dalam banyak kasus  bisa berbeda dan tidak dijumpai dalam tatanan masyarakat yang real.
6.      Konten Oleh Pengguna (User Generated Content)
Karakteristik media sosial lainnya adalah konten oleh pengguna atau lebih populer disebut dengan user generated content (UGC).
7.      Penyebaran (Share/Sharing)
Penyebaran (share/sharing) merupakan karakter lainnya dari media sosial. Medium ini tidak hanya menghasilkan konten yang dibangun dari dan dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga didistribusikan sekaligus dikembangkan oleh penggunanya.
2.7.3    Jenis-Jenis Media Sosial
            Banyak sumber, terutama liputan media maupun kajian literatur, yang membagi jenis media sosial. Dari berbagai sumber tersebut dapat disimpulkan ada enam kategori besar untuk melihat pembagian media sosial, (Nasrullah 2017:39) yaitu :
1.      Media Jejaring Sosial (social networking)
2.      Jurnal online (blog)
3.      Jurnal Online sederhana atau mikroblog (microblogging)
4.      Media Berbagi ( media sharing)
5.      Penanda Sosial (social Boormarking)
6.      Media konten bersama atau Wiki.
2.7.4    Realitas  Media Sosial -  Siber
            Media sosial merupakan medium digital tempat realitas sosial terjadi dan ruang waktu para penggunanya berinteraksi. Nilai-nilai yang ada di masyarakat maupun komunitas juga muncul dalam bentuk yang sama atau berbeda di internet. Namun, pada dasarnya beberapa akademis i yang meneliti internet melihat bahwa media sosial di internet adalah gambaran apa yang terjadi di dunia nyata. Seperti plagiarisme, dalam banyak kasus sumber awal sebuah konten  di internet tidak diketahui sehingga dapat dipergunakan oleh pengguna lain dan dipublikasikan di media sosial miliknya (copy paste). Nilai-nilai ini tetap berlaku di media sosial dan sanksi maupun hukuman terhadap pelanggaran ini tetap ada walau tidak dalam bentuk fisik.
            Contoh lain, Facebook  memiliki fasilitas perangkat opsi terhadap sebuah konten. Pengguna lain bisa memilih apakah sebuah status yang dipublikasikan oleh seseorang ingin di lihat atau disembunyikan dan sampai pada apakah pengguna ingin mengikuti atau berhenti mengikuti apa saja yang disampaikan oleh sebuah akun (Menurut Nasrullah, 2017:51).

2.8         Pengaruh
2.8.1      Defenisi Pengaruh
Menurut Poerdarminta (2003:865) pengaruh adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dan sebagainya) yang berkuasa atau yang berkekuatan (gaib dan sebagainya).
Penjelasan ini menyimpulkan terdapat umpan balik dari seseorang, benda ataupun sebagainya yang dapat memberiakn efek yang sesungguhnya.
              Selain itu Menurut H.Hafied Cangara dalam bukunya (2011:185), pengaruh adalah salah satu element dalam komunikasi yang sangat penting untuk mengetahui besar tidaknya komunikasi yang kita inginkan, pengaruh dapat dikatakan mengenai jika perubahan (P) yang terjadi pada penerima sama dengan tujuan (T) yang diinginkan komunikator (P=T), atau seperti rumus yang dibuat oleh Jamias (1998), yakni pengaruh (P) sangat ditentukan oleh sumber, pesan, media, dan penerima (P=S/P/M/P).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka penelitian menyimpulkan bahwa pengaruh adalah efek yang timbul akibat dari kejadian yang telah kita alami dan merupakan salah satu element dalam komunikasi yang sangat penting untuk mengetahui besar tidaknya komunikasi yang kita inginkan.
2.9.        Berita
2.9.1      Defenisi Berita
  Berita adalah laporan mengenai peristiwa yang ada di masyarakat dan sekitarnya yang disampaikan melalui media massa. Ermanto, (2005:78) dalam bukunya mengatakan bahwa sebaagi mahluk sosial, manusia akan selalu membutuhkan media atau informasi untuk menambah wawasannya dan mendewasakan alam berpikirnya.
M. Atar Seni (1995:11) menyatakan bahwa berita adalah cerita atau laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang faktual yang baru dan luar biasa sifatnya. Sementara (Djuroto, 2004:47) mendefenisikan tentang berita yaitu berita sebagai laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting dan menarik bagi sebagian khalayak, bersifat baru dan dipublikasikan secara luas melalui media massa. Peristiwa atau pendapat tidak akan menjadi berita, bila tidak dipublikasikan media massa secara periodik.
Berdasarkan penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua peristiwa atau kejadian dapat di katakan sebagai berita. Berita harus memiliki nilai seperti sesuatu yang dianggap penting oleh khalayak, memiliki daya tarik dan sebagainya.
Selanjutnya Dja’far H assegaf (1991:24) mendefenisikan berita sebagai laporan tentang fakta atau ide yang terkini, yang dipilih staf redaksi suatu harian untuk disiarkan, yang dapat menarik perhatian pembaca. Defenisi lainnya diberikan oleh (Sumadiria, 2005:65) yakni, berita merupakan suatu laporan tercepat mengenai fakta atau ide terbaru yang benar, menarik, dan penting bagi sebagian besar khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media online internet.
Kesimpulan dari penjelasan ini bahwa berita adalah sebuah informasi terhangat yang tersebar melalui media massa yang disiarkan setiap harinya yang memiliki daya tarik untuk pembaca dan pendengar.
Erianto, (2002: 106-107) menjelaskan nilai berita sangat menentukan bukan hanya peristiwa apa saja yang diberitakan, melainkan bagaiamana peristiwa itu dikemas dan disajikan. Ini merupakan prosedur awal dari bagaimana peristiwa dikontruksi. Ukuran-ukuran yang dipakai untuk memilih sebuah realitas peristiwa oleh wartawan  adalah ukuran profesional yang dinamakan sebagai nilai berita.
Kesimpulan di atas menyimpulkan bahwa berita memiliki nilai tersendiri segi dari isi, ukuran ke  profesionalannya  dan penyajiannya dalam membuat berita.
2.9.2    Unsur – Unsur Layak Berita
Menurut Budayana, (2012:47)”wartawan indonesia menyajikan berita secara berimbang dan adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan dengan menggunakan nama jelas penulisnya”.
Ketentuan yangditetapkan oleh kode etik jurnalistik itu menjadi jelas kepada kita bahwa berita pertama-tama harus cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat, selain cermat dan tepat, berita juga ahrus lengkap (Complete), adil (fair) dan berimbang (balanced). Kemudian pun berita harus tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut objektif. Dan yang merupakan syarat praktis tentang penulisan berita, tentu saja berita itu harus ringkas (consise), jelas (clear), dan hangat (current).


2.9.3    Nilai Berita
            Menurut Budayana, (2012:49) Nilai berita memang tidak dapat terlepas dari unsur pelaporan suatu peristiwa tertentu. Akan tetapi, tidak semua kejadian atau peristiwa dapat dilaporkan kepada khalayak sebagai berita. Agar berita dapat bermanfaat bagi kepentingan banyak orang, berita harus memiliki nilai berita. Nilai-nilai berita yang dimaksud antara lain sebagai berikut :
1.      Keluar biasaan
2.      Kebaruan (aktual)
3.      Kedekatan
4.      Menimbulkan ketertarikan manusiawi (Human Interest)
5.      Berhubungan dengan orang penting
6.      Menimbulkan dampak bagi masyarakat
7.      Informative
Dalam kehidupan masyarakat, informasi menjadi kebutuhan  pokok. Oleh sebab itu. Media berusaha mengumpulkan, mengelolah, dan menyebarkan berbagai informasi yang dibutuhkan oleh masyarakat.
2.10.    Hoax
2.10.1  Defenisi Hoax
Secara singkat hoax adalah informasi yang tidak benar. Dalam cambridge dictionary, kata hoax sendiri berarti tipuan atau lelucon. Kegiatan menipu, trik penipuan, rencana penipuan disebut dengan hoax. Kemudian, kemudian situs hoaxes.org dalam konteks budaya mengarahkan pengertian hoax sebagai aktivitas menipu. “ketika koran sengaja mencetak cerita palsu, kita menyebutnya hoax”. Kita juga menggambarkanya sebagai aksi pubilisitas ynag menyesatkan, ancaman bom palsu, penipuan bisnis, dan klaim politik palsu sebagai hoax. Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih istilah “informasi hoax” sebagai salah satu konsep penelitian. Pemilihan istilah ini didasarkan pada pengertian dasar kata hoax itu sendiri (tipuan), dan bentuknya yang berupa informasi ketika disebarkan (sebagai objek) di Facebook. Dengan demikian “informasi hoax” yang dimaksud dalam penelitian ini adalah “informasi tipuan”.
Menurut David Harley dalam buku Common Hoaxes and Chain Letters (2008:8), ada beberapa aturan praktis yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi hoax secara umum.
1.         Informasi hoax biasanya memiliki karakteristik surat berantai dengan menyertakan kalimat seperti “Sebarkan ini ke semua orang yang anda tahu, jika tidak, sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
2.         Informasi hoax biasanya tidak menyertakan tanggal kejadian atau tidak memiliki tanggal yang realistis atau bisa diverifikasi, misalnya “kemarin” atau “dikeluarkan oleh” pernyataan-pernyataan yang tidak menunjukkan sebuah kejelasan.
3.         Informasi hoax biasanya tidak memilki tanggal kadaluwarsa pada peringatan informasi, meskipun sebenarnya kehadiran tanggal tersebut juga tidak akan membuktikan apa-apa, tetapi dapat menimbulkan efek keresahan yang berkepanjangan.
4.         Tidak ada organisasi yang dapat diidentifikasi yang dikutip sebagai sumber informasi atau menyertakan organisasi tetapi biasanya tidak terkait dengan informasi.
Lebih lanjut Harley menyebutkan bahwa kebanyakan informasi hoax beredar dari niat baik untuk menunjukkan perhatian atau membantu orang lain. Tetapi ada juga informasi hoax yang dimaksudkan untuk kesenangan personal ketika berhasil menipu orang lain. Harley mengatakan bahwa informasi hoax masih akan terus berkembang seiring dengan perkembangan kemajuan jaman. Ada juga esensinya benar tetapi kegunaan dan nilainya dipertanyakan disebut Harley dengan semi-hoax.
2.10.2  Ciri-Ciri dari Sebuah Berita Hoax
            Berikut adalah 4 ciri berita hoax menurut David Harley (2008 : 9) antara lain sebagai berikut :
1.                  Mengajak Menyebarkan Informasi Seluas-luasnya.
2.                  Tidak Mencantumkan Tanggal dan Deadline.
3.                  Tidak Mencantumkan Sumber yang Valid
4.                  Memakai Nama Dua Perusahaan Besar
Meskipun dalam informasi yang memuat tanggal pembuatan/penyebaran dan tanggal kadaluarsa informasi juga terkadang tidak dapat membuktikan bahwa informasi tersebut bukan hoax,  Keempat  ciri-ciri ini setidaknya dapat membantu kita dalam memfokuskan lokus pemikiran kita ketika berhadapan dengan sebuah informasi. Sehingga idealnya kita harus bersikap skeptis terhadap setiap informasi yang ditemui sekalipun terlihat benar, lengkap, dan sangat meyakinkan.
2.11.    Penculikan Anak
2.11.1  Defenisi Penculikan Anak
            Kamus Umum Besar Indonesia (2003) mengartikan penculikan sebagai culik-menyulik, mencuri atau melarikan orang lain dengan maksud-maksud tertentu (dibunuh, dijadikan sandra).penculik adalah orang yang menculik dan penculikan adalah proses, perbuatan, cara menculik. Pada penelitian ini aadalah sasaran penculikan adalah anak-anak.
            Undang-Undang RI. No 4 tahun 1979 tentang kesejahteraan anak pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa”anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum perna kawin”. Aritoteles, (2009:23) menggambarkan individu, sejak anak-anak sampai dewasa ini ke dalam tiga tahapan, yaitu :
Tahap I            : dari 0-7 tahun ( masa anak kecil atau masa bermain).
Tahap II          : dari 7-14 tahun (masa anak-anak, masa sekolah rendah).
Tahap III         : dari 14-21 tahun ( masa remaja/pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa.
Sedangkan fase-fase perkembangan individu yaitu :
0-6 tahun         : masa usia pra sekolah
6-12 tahun       : masa usia sekolah dasar
12-18 tahun     : masa usia sekolah menengah
18-25 tahun     : masa usia  mahasiswa


2.11.2    BeritaPenculikan  Anak Tertinggi 2016
Menurut DATABOKS, Jum'at, 23 Desember 2016 Berdasarkan data Kepolisian yang dicatat Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi dengan kejadian penculikan terbanyak pada 2016 adalah DKI Jakarta, yakni 56 kasus. Adapun provinsi dengan kasus penculikan terbesar lainnya adalah Sumatera Selatan sebanyak 48 kejadian, Aceh terdapat 38 kasus dan Jawa Timur 37 penculikan. Angka ini merupakan kasus yang tercatat di kepolisian. Jumlah riil di lapangan bisa jadi jauh lebih tinggi lagi.
Kejadian kejahatan dengan penculikan pada 2016 mencapai 380 kasus yang tercatat oleh kepolisian. Angka ini cenderung meningkat selama periode 2011–2016. Kejadian penculikan kerap terjadi pada anak-anak dengan kondisi ekonomi yang tinggi. Alasan atau motif penculikan bisa bermacam-macam, namun alasan ekonomi masih menjadi yang paling tinggi. Dengan melakukan penculikan terhadap anak-anak, para pelaku nantinya mengharapkan tebusan berupa uang dari orang tua korban.
Dari pengertian penculikan anak tersebut peneliti menyimpulkan penculikan anak adalah suatu tindakan pencurian anak yang masih membutuhkan kasih sayang, pemeliharaan, dan tempat bagi perkembangannya dengan berbagai maksud seperti dengan menginginkan uang, balas dendam, dijadikan sasaran pemerkosaan ataupun diperdagangkan. Penculikan anak ini merupakan tindakan melanggar hukum karena dilakukan merampas paksa hak orang lain yang dilakukan terhadap anak-anak.

2.12     Facebook
2.12.1  Defenisi  Facebook
Facebook adalah salah satu dari sekian banyak Social Network atau Situs Jejaring Sosial yang ada di jagad web. Bila sebelumnya telah mengenal MySpace atau Friendster, maka Facebook pun tak jauh berbeda seperti kedua Social Network tersebut.
            Facebook dibuat oleh Mark Zukerbeg yang diluncurkan pada 4 februari 2004. Dia adalah orang Amerika keturunan yahudi salah satu dari tiga pendiri facebook yang saat ini bertindak sebagai SEO facebook. Fitur yang ditawarkan Facebook sebagai situs jejaring sosial membuat banyak orang menggunakannya. Menurut Jubilee Enterprise (2010: 79), Indonesia merupakan salah satu pengguna Facebook terbesar dengan jumlah user sekitar 17,6 juta orang. Awal-awalnya berdiri facebook hanya ditujukan untuk kalangan  mahasiswa  Universitas Harvard. Baru di tahun 2005 Facebook membuka keanggotaan untuk kalangan anak sekolah.
Setahun kemudian tepatnya tahun 2006 Facebook membuka keanggotaan secara universal alias siapa saja, dari belahan bumi manapun, orang bisa bergabung dengan facebook. Facebook tealh menjadi situs sosial netrworking terbesar saat ini, ada begitu banyak manfaat facebook yang bisa kita gunakan, sebagai tempat untuk mencari teman, tempat promosi, tempat diskusi, tempat belajar dan bermain. disamping mempunyai manfaat facebook juga mempunyai kerugian, mengurangi waktu efektif, pornografi, menghabiskan uang, kerjaan tidak dihiraukan, meningkatkan rasa cemburu, menimbulkan pertengkaran keluarga. di samping kerugian facebook juga memiliki keuntungan, sebagai tempat menjalin silaturahmi, tempat belajar, Refresing, Bisnis, Tempat curhat, Praktis dan lain-lain.
2.13. Hal yang Menyebabkan Facebook Digemari Oleh Masyarakat
            Situs pertemanan Facebook memungkinkan seseorang untuk menemukan teman lama, menemukan teman baru, menjalin pertemanan, bergabung dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan koneksi dan berinteraksi dengan orang lain, mengirimkan pesan dan komentar.
            Fasilitas-fasilitas lainnya selain fasilitas utama yang disebutkan diatas, masih sangat banyak yang ditawarkan, baik secara foraml atau nonformal, independen atau dependen. Saat ini, jumlah Facebooker Indonesia jauh melebihi penggunan di Singapura dan Malaysia. Padahal Facebook hingga pertengahan 2007 nyaris tidak dilirik pengguna internet di Indonesia, akan tetapi memasuki pertengahan 2008, jumlah akses ke situs ini melonjak tajam dan menempatkannya sebagai situs rangking kelima yang paling banyak diakses di Indoesia.
2.14.    Perilaku
2.14.1  Defenisi Perilaku
Prilaku dalam kamus besar indonesia adalah tingkah laku atau perbuatan individu atau tanggapan individu yang terwujud dalam gerakan atau sikap (Walgio, 1990 150). Setiap manusia pastilah memiliki perilaku yang berbeda-beda antara yang satu dengan yang lainnya. Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi dan tujuan dan baik disadari ataupun tidak. Seiring dengan tidak disadari bahwa interaksi itu sangat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat memikirkan penyebabnya seseorang menerapkan perilaku tertentu.
Karena itu amat penting untuk dapat meneliti alasan dibalik perilaku individu. Selama ia mampu mengubah perilaku tersebut. Menurut Walgio (1980:12-13), perilaku manusia dapat antara perilaku yang refleksi dan perilaku non-refleksi. Reaksi atau perilaku refleksi adalah perilaku yang terjadi pada sendirinya, secara otomatis. Setimulus yang diterima organism atau individu tidak sampai ke pusat susunan saraf atauotak, sebagai pusat kesadaran, sebagai pusat pengendali dari sifat manusia. Misalnya reaksi kedip mata bila terkenal sinar matahari, gerak lutut bila terkena sentuhan palu, menarik jari bila terkena api dan sebagainya.
2.14.2       Faktor-Faktor Personal yang mempengaruhi Perilaku Manusia
                  Ada delapan faktor menurut Rakhmat (2011 :32-42) yaitu :
1.         Faktor Biologis
Pertama, telah diakui secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan pengaruh lingkungan atau situasi.
Kedua, diakui pula adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yang lazim disebut sebagai motif biologis.
2.         Faktor Sosiopsikologis
Terbagi menjadi tiga komponen yaitu :a. komponen kognitif adalah aspek intelektual, yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, b. komponen konatif adalah aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Dan komponen afektif adalah yang terdiri atas motif sosiogenis, sikap, dan emosi.
3.         Motif Sosiogenis
Motif ini sering juga disebut motif sekunder sebagai lawan motif primer (motif biologis), sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya dalam membentuk perilaku sosial bahkan sangat menentukan
4.         Sikap
Sikap adalah konsep yang paling penting dalam psikologi sosial dan yang paling banyak didefenisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang diperoleh melalui proses belajar (sherif dan sherif, 1956:489). Ada pula yang melihat sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan respon (Allport,1924).
Dari beberapa defenisi kita simpulkan pertama, sikap adalah kecenderungan bertindak, berepsesi, berpikir, dan merasa dalam menghadapi objek, ide, situasi atau nilai.
5.         Emosi
Emosi mennunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran, keperilakuan, dan proses fisikologis.
6.         Kepercayaan
Kepercayaan adalah komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis. Kepercayaan disini tidak ada hubungannya dengan hal-hal gaib, tetapi hanyalah “keyakinan bahwa sesuatu itu ‘benar’ atau ‘salah’ atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau intuisi” (hohler, et al,. 1978:48).
7.         Kebiasaan
Kebiasaan adalah aspek perilaku yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan.
8.         Kemauan        
Kemauanlah yang membuat orang besar atau kecil.Kemauan erat kaitan dengan tindakan, bahkan ada yang mendefenisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan.
2.15.    Masyarakat
2.15.1. Defenisi Masyarakat
Mayarakat ialah satu kumpulan manusia yang berinteraksi dalam kawasan atau sempadan yang telah ditetapkan dan dibimbing oleh satu budaya yang dikongsi bersama. Menurut Richard T. Scharfer, (2003:41) masyarakat ialah “ a fairly large number of people wholive in the same teritory, are relatively independent of people outside, it and participate in a common culture.”
Menurut Koenjaraningrat (2012:122) “masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang berinteraksi sesuai dengan sistem, adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”. 
Berdasarkan pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa masyarakat adalah sebuah kehidupan yang berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh masyarakat itu sendiri sehingga terciptalah sebuah kehidupan bermasyarakat.
Conte dalam Syani (2012:31)  menyatakan “masyrakat merupakan kelompok makluk hidup dengan realititas baru yang berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dengan berkembang menurut pola perkembangannya tersendiri. Masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang : pertama memandang community sebagai unsur statis, artinya community terbentuk dalam suatu wadah/tempat dengan batas-batas tertentu. Kedua, Community dipandang sebagai unsur yang dinamis, artinya menyangkut suatu proses yang terbentuk melalui faktor psikologis dan hubungan antar manusia, maka didalamnya terkandung unsur-unsur kepentingan, keinginan atau tujuan yang bersifat fungsional.
Hal tersebut menunjukkan bagian dari kesatuan masyarakat sehingga ia dapat pula disebut sebagai masyarakat setempat, misalnya kampung, dusun atau kota-kota kecil. kehidupan mereka. Nilai-nilai yang dipegang akan mempengaruhi perhubungan dan perlakuan diantara mereka dalam menentukan apa yang dikatakan baik atau keji, betul atau salah, diingini dan tidak diingini.
Penulis menyimpukan dari penjelasan diatas adalah Anggota masyarakat yang memahami nilai budayanya akan tahu apa yang perlu mereka lakukan dalam hubungannya dengan anggota yang lain dan akan tercipta masyarakat yang baik dan bermanfaat sehingga masyarakat tersebut akan berlangsung kehidupannya dengan sendirinya.





2.16     Kerangka Berpikir


Pengaruh Peredaran Berita Hoax Penculikan anak di Media Sosial Facebook Terhadap Prilaku Masyarakat

Teori S-O-R
(Stimulus-Organisme-Respons)


Variabel (Y)
  Perilaku
 -Faktor Sosiopsikologis    -Motif Sosiogenis
 -Sikap
     -Emosi
-Kepercayaan
-Kebiasaan
-Kemauan


Variabel (X)
              Berita Hoax
-Memuat kalimat yang     mengajak untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya
  -Tidak mencantumkan Tanggal dan Deadline
  -Tidak mencantumkan sumber yang valid
  -Memakai dua nama perusahaan besar


Masyarakat  Desa Kasih Raja
Ada Pengaruh /
Tidak Ada Pengaruh


Gambar 2.3 Kerangkah Pemikiran
2.17.     Hipotesis Penelitian
           “Hipotesis dapat diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian sampai bukti melalui data terkumpul” (Arikunto, 2013:110).
Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
        : Berpengaruh Terhadap Prilaku Masyarakat desa Kasih RajaKec.Lubuk Keliat, Kab. Ogan Ilir  Provinsi Sumatera Selatan.
     :  tidak berpengaruh terhadap Prilaku Masyarakat desa Kasih RajaKec. Lubuk Kelia Kab. Ogan Ilir  Provinsi Sumatera Selatan.












BAB III
METODE PENELITIAN
3.1       Metode Penelitian
            Pada penelitian ini, peneliti menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif merupakan metode yang digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran tentang objek yang diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya (Sugiyono, 2014:14). Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Peredaran berita hoax di media sosial Facebook.
3.2       Defenisi Operasional Variabel
Defenisi operasional variabel adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu varaibel yang berguna sebagai pembatas yang bertujuan untuk menghindari agar tidak terjadinya kesalahpahaman dari pengertian variabel tersebut sehingga dalam penelitian ini perlu ditafsirkan agar tidak memberikan persepsi atau tanggapan yang berbeda.
Oleh karena itu agar lebih mudah memahami kedua variabel tersebut, penulis menjabarkan operasionalisasi variabel-variabel tersebut yaitu sebagai berikut :
Tabel 3.1 Operasional Variabel
No.
Variabel X
Dimensi
Indikator
Skala
1
Berita Hoax
(David Harley 2008:9)
Membuat kalimat yang mengajak untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya
   1). Membuat kalimat    iinformasi dan menyebarkannya
   2).  Mengajak untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya

Likert


Tidak mencantumkan tanggal dan dedline
1). Tidak mencantumkan tanggal
2). Tidak mencantumkan deadline

Likert


Tidak mencantumkan sumber yang valid
1).  tidak mencantumkan sumber yang valid
2).  Tidak mencantumkan alamat yang jelas
Likert


Memakai nama dua perusahaan  besar
1). Memakai nama ganda
2). Memakai nama perusahaan besar
Likert
2
Variabel Y
Dimensi
Indikator
Skala

Perilaku Masyarakat
(Rakhmat,2011:32-42)
Faktor Biologis  2terlibat dalam seluruh kegiatan manusia

1).Kebutuhan akan informasi dari sebuah berita.
2).Kebutuhan akan kelengkapan dari sumber.




Sosiopologis : proses sosial yang mempengaruhi perilaku

1).Perasaan tidak senang dari informasi tersebut.
2).Perasaan senang dari informasi tersebut



Sosiogenesis : perilaku sosial yang sangat dibutuhkan.

1). Kebutuhan akan rasa aman kepada anak.
2). Kebutuhan kasih sayang





Sikap :  sebagai kesiapan saraf , sebelum memberikan respons.
1).Memahami isi dari informasi
2). Memahami jawaban yang akan diberikan




Emosi : membangkitkan dan  membolisasi energi kita
1). Perasaan ingin marah dari ketidak benaran informasi
2).Perasaan ingin mengetahui semua informasi nya



Kepercayaan : keyakinan bahwa sesuatu itu benar/ salah atas dasar bukti, sugesti, pengalaman, intuisi
1). Percaya dengan setiap informasi yang diberikan
2). Keyakinan akan bukti dan penglaman




Kebiasaan : aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak direncanakan.

1).Kebiasaan untuk selalu menerima semua informasi
2).kebiasaan menyimpulkan sendiri dari setiap informasi tanpa mencari sumber yang benar



Kemauan : kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai tujuan.
1).Mencari kebenaran dari setiap informasi yang diterima
2).mengumpulkan data informasi dari sumber terpercaya


3.3       Populasi dan Sampel Penelitian
            Populasi adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010:173). Pupulasi dalam penelitian ini adalah Masyarakat di Desa Kasih Raja kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Dari uraian tersebut, maka populasi dalam penelitian ini berjumlah 1655 orang (Sumber dari Pemerintahan Desa Kasih Raja kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan Tahun 2017) .
            Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini adalah dengan metode Purposive Sampling. Artinya responden (subjek) yang dipilih secara sengaja dengan karakteristik usia semua pengguna media sosial facebook di desa kasih raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir provinsi sumatera selatan yang diyakini representatif terhadap populasi penelitian. Untuk jumlah sampel diambil dengan rumus Taro Yamane dalam Kriyantono, (2006:162) sebagai berikut :



n  =

 


Keterangan :
n    = Jumlah Sampel
N   = Jumlah Populasi
Presisi yang ditetapkan sebesar 0,1
Berdasarkan populasi diketahui sebesar 1655 orang di desa kasih raja kecamatan lubuk keliat, kabupaten ogan ilir, provinsi sumatera selatan. jadi besarnya sampel yang digunakan adalah :
n =
n =
=  94,3 (94)
Berdasarkan hasil perhitungan sampel diatas, maka diperoleh sampel penelitian ini adalah  atau  (dibulatkan) pengguna media sosial facebook di desa kasih raja kecamatan lubuk keliat, kabupaten ogan ilir, provinsi sumatera selatan.
3.4       Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder untuk lebih jealsnya dapat diuraikan sebagai berikut :
a.      Sumber Data primer
Sumber data primer berupa data yang diperoleh peneliti dari lapangan secara langsung, maka dapat memperoleh data primer pada penelitian ini peneltii menggunakan kuesioner mengenai Predaran Berita Hoax di  media sosial facebook dan perilaku masyarakat yang kemudian data tersebut dianalisis guna mencapai tujuan penelitian ini.
b.      Sumber Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini berupa data tang diperoleh dari studi pustaka penulis lakukan dengan mencari buku-buku dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan teori yang penulis butuhkan, seperti tentang teori Stimulus Organisme Respon, Komunikasi, Komunikasi massa, media sosial, facebook, berita hoax dan prilaku masayarakat, sealin itu data sekunder juga diperoleh dari dokumentasi merupakan suatu caramengumpulkan data tertulis yang dibutuhkan dalam penelitian.
3.5       Metode Pengumpulan Data
                 Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Kuesioner adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan respons (responden) sesuai dengan permintaaan penggunaan (Ridwan, 2010:71). Pemberian angket yang berbentuk pernyataan menggunakan skala likert dengan lima alternatif jawaban yakni: a. (sangat setuju) dinilai 5,  b. (setuju) dinilai 4, c. (kurang setuju) dinilai 3, d. (tidak setuju) dinilai 2, dan alternatif e. (sangat tidak setuju), dinilai 1.



3.6              Teknis Analisis Data
3.6.1           Analisis Validitas dan Reliabilitas
              Untuk menentukan layak tidaknya instrumen tersebut dipergunakan dalam pengumpulan data pada penelitian ini, maka uji coba instrumen ini melalui uji validitas dan reliabilitas, yaitu sebagai berikut :
a.               Uji Validitas Instrumen
                  Uji validitas pada penelitian ini dilakukan dengan menghitung korelasi (pearson correlation) antara skor masing-masing butir angket dengan total skorangket. Menilai kevalidan masing-masing butir pertanyaan dan dapat dilihat dari nilai corrected item-total correlation dengan menggunakan propram SPPS versi 220. Suatu butir angket dikatakan valid jika nilai r-hitung yang merupakana nilai dari corrected tem-total cerrelation  dari r-tabel, dengan angka kritis korelasi tabel sebesar 5%. Rumus uji validitas instrumen dengan menggunakan korelasi product Moment, (Kriyantono, 2006:173) yaitu sebagai berikut  
Keterangan :
 Koenfisien korelasi                     
Jumlah nilai setiap item angket
Jumlah nilai setiap responden
n       Jumlah sampel penelitian

b.            Uji Reliabilitas Instrumen
Suatu instrumen ialah reliabel sebagai alat pengumpulan data apabila memberikan hasil ukuran yang sama terhadap suatu gejala pada waktu yang berlainan. Berdasarkan uraian tersebut, pengujian reliabilitas ini dianalisis dengan program SPSS versi 23.0 dengan koefisien keandalan (Reliability) sebesar 5% uji reliabilitas menggunakan metode Alpha :

Rumus Alpha :
        

Dimana :       Nilai Reliabilitas
                       Jumlah Varians skor tiap-tiap
                                        Varians total
                      Jumlah item
Hasil uji reabilitas adalah apabila nilai Alpha lebih besar dari pada 0,666 maka variabel dinyatakan reliabel (Riduan, 2013: 128).
3.6.2         Analis Statistik Deskriptif           
                 Berdasarkan hasil pengumpulan data masing-masing variabel, kemudian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan program SPSS versi 22.0. Untuk Mempermudahkan analisis ini sebelumnya diberikan skor dengan penilaian sekala likert yang terdapat pada tabel dibawah ini.



 Tabel 3.2 Pemberian Skor
Alternatif Jawaban
Skor
Sangat Setuju
Setuju
Kurang Setuju
Tidak Setuju
Sangat Tidak Setuju
5
4
3
2
1

3.6.3      Analisis Hipotesis
3.6.3.1   Uji Regresi Linear Sederhana
              Kegunaan regresi dalam penelitian ini digunakan untuk meramalkan atau memprediksi variabel terikat (Y) apabila variabel bebas (X) diketahui (Riduan, 2010:146). Teknis analisis ini digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi  nilai dari variabel dependen apabila nilai independen mengalami kenaikan atau penurunan yang akan dianalisis menggunakan program SPSS versi 22.0 , Rumus Regresi linear sederhana sebagai berikut :
                           Y = a + b X
            Dimana : Y = Variabel Dependent (terikat)
                        X = Variabel Independent (bebas/tidak terikat)
                        a  = Konstan
                        b  = Koefisien Regresi

3.6.3.2     Uji Hipotesis
Uji Hipotesis adalah metode pengambilan keputusan yang didasarkan dari analisis data, baik dari percobaan yang terkontrol maupun observasi (tidak terkontrol).Untuk Mengetahui kebenaran dari hipotesis dalam penelitian dengan menggunakan analisis uji t (uji koefisien regresi sederhana) yang akan dianalisis menggunakan program SPSS versi 22.0. kriteria pengujian hipotesis, yaitu sebagai berikut.
    : Terdapat pengaruh peredaran berita hoax penculikan anak di media sosial facebook terhadap perilaku masyarakat di desa kasih raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir provinsi.sumatera selatan.
      :  Tidak terdapat pengaruh peredaran berita hoax penculikan anak di media sosial facebook terhadap perilaku masyarakat di desa kasih raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir provinsi.sumatera selatan.
              Kriteria pengujian hipotesis apabila dilihat berdasarkan SPSS pada taraf signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan (N-2) Sebagai berikut :
      :     diterima jika    0,05
Atau
       :    diterima jika    0,05
  :    diterima jika   
  :     diterima jika   
3.7          Waktu dan Tempat penelitian
               Penelitian ini dilakukan di Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan yang akan dilaksanakan dari bulan April 2017 sampai Oktober 2017.
3.8       Jadwal Penelitian
 Jadwal penelitian ini dimulai dengan persiapan hingga pelaksanaan penelitian, konsultasi serta perbaikan tulisan hasil penelitian yang melalui beberapa tahapanseperti yang tertera dalam penelitian ini.
Tabel 3.3 Jadwal Pelaksanaan Penelitian

No.

Kegiatan

Tahun 2017


04
05
06
07
08
09
10
1
Persiapan pembuatan proposal







2
Seminar proposal dan perbaikan







3
Penelitian lapangan







4
Pengelolahan data dan penyusunan laporan hasil penelitian







5
Ujian Komprehensif dan perbaikan























DAFTAR PUSTAKA
Buku   :
Arikunto, S . 2013. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka                      Cipta.
_______, S .  2014. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Cangara, Hapid.2011. Pengantar Ilmu Komunikasi. Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Hunt. L. Chester. 2003. Komunikasi Organisasi.Jakarta: Bumi Aksara.
Kriyantono, Rahmat. 2008. Teknik Praktis riset Komunikasi. Jakarta : Pernada Media grouf.
Lasswell, 2003. Teori Komunikasi. Jakarta: Salemba Humanika.
Mcquail, Dennis. 1987. Teori Komunikasi Massa. Jakarta : Erlangga.
Muhammad Arni, 2014. Komunikasi Organisasi.Jakarta : Bumi Aksara.
.Rakmat, Jalaludin.2011. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Riduan, 2014. Dasar-Dasar Statistika. Bandung : Alfabeta.
Nasrullah,2017.Media Sosial.Bandung : PT.Remaja Rosdakarya.
Sugiyono, 2011. Metode Penelitian Kombinasi (Mixed Methods). Bantung : Alfabeta.
_______, 2013. Metode Penelitian Kombinasi . Bantung : Alfabeta.
_______, 2014. Metode Penelitian Kombinasi. Bantung : Alfabeta.
West Ricard dan Lyyn H. Turner, 2009. Teori Komunikasi. Jakarta: Salembah Humanika.

Internet  :
DATABOKS.2015. Kasus Penculikan Anak di Sumsel. Diakses pada 16 Juni 2017
Effendy.2013. melalui :
       http://pengertianteori-S.O.R-menurut para ahli. Diakses pada 16 Agustus 2017
Harley, David. 2008. Common Hoaxes and chain letters melalui :
       http://cara-mengidentifikasi-hoaxes,2015/2016.diindonesia.com. Di akses pada 14 Agustus 2017.
Jejaring Sosial. Melalui :
       http://apry199.student.umm.ac.id/2011/1/09/29/dampakpositif-negatif-facebook-untuk kalanganremaja. Diakses pada 16 Agustus 2017
KBBI, Penculikan-anak. Di akses pada 8 mei 2017.
JAKARTA, KOMPAS.com. Diakses Pada 8 mei 2017.
UUD. RI. No.4 : 1979 “Tentang Kesejahteraan anak . Pasal I AYAT (2).  Diakses pada 8 Mei 2017.
ciri-ciri berita hoax menurut pakar ilmu hukum komunikasi melalui :
Koranaktual.com.indo.7-ciri-berita-hoax.2017/05/02. Di akses pada 14 Agustus 2017.
Maslow,(1987). Defenisi Hoax dan ciri-cirinya.
http//.www.hoaxbusters.org//hoax10.html. Diakses pada 6 Mei 2017.
Jurnal  :
Budi Mansyah. 2017.“Fenomena Berita Hoax Media Sosial Facebook Dalam Menghadapi Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta Tahun 2017”. Tanpa Terbitan. Mercu Buana. Di akses pada 13 Agustus 2017
Clara Novita A. 2015. “Literasi Media Baru Dan Penyebaran Berita Hoax. Tanpa Terbitan. Gadjah Mada.
http://www.contoh.skirpsi/pengaruhfacebook -terhadap-edit. Di akses pada 8 mei 2017
Clara Novita A. 2015.
       http://www.scribd.com/doc/MAKALAH-LITERASI-MEDIA. Diakses pada 9 Mei 2017.
Feranita, F. 2017.” Pengaruh Media Sosial Facebook Terhadap Hasil belajar Akidah Akhlak di MA Syamsul Ulum Kota Suka Bumi Jawa Barat” Tanpa Terbitan. IAIN Raden Intan lampung. Diakses pada 16 Mei 2017


2 komentar: