contoh proposal skripsi berita hoax penculikan anak
Jumat, 28 September 2018
Jumat, 22 September 2017
contoh proposal pengaruh peredaran berita hoax penculikan anak di media sosial facebook terhadap perilaku masyarakat
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar
Belakang
Era globalisasi ditandai munculnya
keberagaman media informasi, dimulai dengan media massa dalam bentuk media
cetak, lalu media elektronik dengan kelebihan audio visual, hingga sekarang
terjadi lagi pergeseran yang amat drastis. Jika dulu media hanya merupakan
sumber informasi, dan informasi tersebut hanya diberikan atau dipublikasikan
dengan satu arah, kini media jauh lebih interaktif (Rogers, 1986:23). Khalayak
tidak lagi sekedar sebagai objek sasaran informasi, tetapi khalayak telah
dilibatkan jauh lebih aktif karena kemajuan teknologi yang menyebabkan
interaksi di media bisa terjadi. Otomatis kenyataan ini membawa perubahan pada
sisi khalayak, terutama dalam segi hal kepuasan terhadap informasi yang di dapat.
Informasi yang dibawa media menimbulkan berbagai
permasalahan. Bagi masyarakat, dapat mengakibatkan mulai dari kecanduan
menonton tayangan televisi, bermain game online, chating melalui jejaring
sosial konten pornogerafi internet, infotaiment, hingga berita kriminal.
Masyarakat dengan mudah mengkonsumsi informasi yang mereka terima dari media
tersebut. Menurut Postman dalam Ricard West dan Lyyn H. Turner (2009 : 42)
menyatakan bahwa percaya perkembangan pesat dalam teknologi baru dapat
berbahaya bagi masyarakat, kita telah melihat pertumbuhan yang besar dalam
mengakses dan menerima informasi.
Kehadiran beragam
media-media baru salah satunya media sosial Facebook
yang sekarang lagi diserbu
penggemarnya dari kalangan remaja, orang dewasa dan orang tua sekarang ini, karena
kemudahannya dalam membuat akun dan cara daftar dan login ke facebook
membuat masyarakat merasa dimanjakan oleh media sosial yang satu ini
karena kemudahannya dalam mengakses dan menyebarluaskan apa saja yang ingin
mereka tuangkan pada kiriman mereka, membuat mereka berketerusan untuk
mengakses. Media sosial yang sampai saat ini menjadi kegemaran masyarakat
indonesia adalah facebook.
Facebook
merupakan salah satu jejaring sosial yang sangat digemari dikalangan
masyarakat. Pengertian facebook
menurut Wikipedia berbahasa indonesia adalah sebuah situs web jejaring sosial
populer yang diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebook juga dapat diartikan sebuah web jejaring sosial yang
didirikan oleh Mark Zuckerberg dan diluncurkan pada 4 Februari 2004. Facebok memungkinkan para pengguna
menambahkan profil dengan foto, kontak, ataupun informasi personal lainnya dan
dapat bergabung dalam komunitas untuk melakukan koneksi dan berinteraksi d engan
penguna lainnya.
Seiring dengan
perkembangan zaman yang semakin modern, penggunaan Facebook saat ini sudah menjadi rutinitas sehari-hari untuk seluruh
kalangan masyarakat khususnya masyarakat pedesaan karena penggunaan internet
sudah bukan merupakan barang yang mahal.
Jejaring sosisal ini sangat membantu dalam menjalin pertemanan, mencari
hiburan, membagikan dan menerima informasi, membina hubungan personal, atau
bahkan cahtingan, wall sesama teman penggunanya juga dapat menjadi sebuah media
yang dapat memberikan dampak Positif ataupun negatif bagi masyarakat yang
selalu menerima informasi yang diberikan facebook.
Dampak Positif
dari facebook seperti menambah
pertemanan dan dapat menemukan teman-teman lama karena hampir semua orang
menggunakan media sosial facebook,
berbisnis online, membuat sebuah grup
desa ataupun instansi lainnya, tempat media pembelajaran, mengirim informasi
lowongan kerja, kerabat yang meninggal dunia, membuat status motivasi, berbagi
resep makanan dan lain-lain, adapun dampak negative dari facebook seperti Penyebaran foto-foto yang tidak sopan, berteman
dan berkomunikasi secara bebas sehingga menimbulkan kecemburuan dan perceraian,
membuat seseorang menjadi serba ingin tahu urusan orang lain, banyak beredar
kata-kata kasar, pamer, gejala kenarsisan, menyebabkan seseorang mengalami kesulitan
untuk membedakan hal nyata dan tidak nyata, seperti sekarang maraknya
berita-berita hoax (palsu).
Peredaran berita
(Hoax) seperti berita penculikan
anak. Hoax adalah sebuah pemberitaan
palsu usaha untuk menipu atau mengakali pembaca atau pendengarnya untuk
mempercayai sesuatu, padahal sang pencipta berita palsu tersebut tahu bahwa
berita tersebut palsu.
Masyarakat
diresahkan dengan munculnya informasi di akun jejaring sosial facebook milik Aqila Salsabilah yang
diakses pada 12 Maret 2017 terkait penculikan anak, yang disebutkan bahwa
penculik itu sudah ada di wilayah Provinsi Sumatera Selatan. Isu itu membuat
para orangtua yang memiliki anak khawatir. Seperti juga yang di unggah oleh
akun jejaring sosial facebook milik Dede Triawan yang diakses pada 14 Maret
2017 yang menguploat gambar selembaran kertas yang bertuliskan Ciri-ciri pelaku kerap menyamar seperti orang
kurang waras, pemulung, dan beberapa lainnya. Benar atau tidak, yang jelas
desas-desus ini berdampak terhadap beberapa hal. Kapolri Tito Karnavian menyatakan, kabar penculikan
anak melalui pesan berantai serta di dunia maya tidak benar atau hoax. Kabar tersebut beberapa waktu
terakhir beredar di sejumlah wilayah di tanah air. Menurut Kapolri Tito,
penyebar isu penculikan anak sengaja memanfaaatkan momentum keramaian pemilihan
kepalah daerah untuk menaikan isu tersebut, tujuannya selain menimbulkan
keresahan di tenagh masyarakat, juga ingin mendelegitimasi wibawa pemerintah
JAKARTA, KOMPAS.com.
Fenomena masyarakat
Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi Sumatera
Selatan merupakan kalangan masyarakat yang aktif dalam menggunakan facebook. Sehingga peneliti perlu untuk
melakukan penelitian lebih lanjut
mengenai pengaruh yang ditimbulkan akibat peredaran berita hoax penculikan anak di sosial media facebook di kehidupan sosial di kalangan masayarakat Baik bersifat
negatif maupun positif. Saat ini banyak masyarakat yang mengikuti arus media
komunikasi dalam teknologi yang memilih facebook
sehingga peneliti mengambil judul penelitian ini dengan “Pengaruh Peredaran Berita Hoax
penculikan anak di Media Sosial Facebook
Terhadap Prilaku Mayarakat : Studi Kasus Pada MasyarakatDesa Kasih Raja Kec.
Lubuk Keliat, Kab.Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan”.
1.1 Identifikasi
Masalah
1) Peredaran
Berita Hoax Penculikan anak di Media
Sosial Facebook Mendapat Respon dari
Masyarakat
2) Masyarakat
lebih memilih Membagikan dari pada membaca Berita Berita Hoax
3) semangkin
Beredarnya Berita Hoax Penculikan anak dapat Mempengaruhi Masyarakat
1.3 Rumusan
Masalah
Berdasarkan
uraian latar belakang, maka penulis merumuskan permasalahan penelitian ini
adalah : Apakah Peredaran berita Hoax
punculikan anak di Media Sosial Facebook
berpengaruh Terhadap Prilaku masyarakat
di Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, Kabupaten Ogan Ilir, Provinsi
Sumatera Selatan ?
1.4 Batasan Masalah
Berita
Hoax Penculikan Anak yang telah ditemukan peneliti maka peneliti memberikan
batasan masalah pada masalah tersebut serta ruang lingkupnya agar dalam
melakukan penelitian nantinya tidak akan melebar dan dapat mempermudah dalam
melakukan analisa. Batasan tersebut yaitu :
X =
Berita Hoax
Y
= Perilaku Masyarakat
1.5 Tujuan Penelitian
Tujuan
dari penelitian ini adalah untuk mengetahui ada/tidak adanya Pengaruh Peredaran
Berita Hoax Punculikan anak di Media
Sosial Facebook Terhadap Prilaku Masyarakat
Desa Kasih Raja Kecamatan. Lubuk Keliat, Kabupaten. Ogan Ilir, Provinsi Sumatera Selatan.
6.
Manfaat Penelitian
6.1 Manfaat
Akademis
Manfaat
penelitian ini dapat memberikan kontribusi pengalaman untuk peneliti dalam
Memilih Antara Berita Hoax dan
Berita Fakta.
1. Bagi penulis, sebagai bahan untuk
menambah wawasan dan pengetahuan bagi diri
penulis khususnya pengetahuan pengaruh berita hoax di media bagi pengguna (User)
media sosial.
2. Bagi
pengguna (User) media sosial
terkhusus Masyarakat Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan Ilir
Sumatera Selatan.
6.2 Manfaat Praktis
Penelitian ini diharapkan dapat menjadi
referensi dan sumbangan ilmu dalam bidang komunikasi khususnya mengenai
Pengaruh dari peredaran Berita Hoax.
1. Bagi
pemerintah, dengan ditetapkannya Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 Tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik diharapkan dapat lebih memahami melaksanakan
tugasnya dan perannya dengan baik.
2. Bagi
Jurusan/ Fakultas, Untuk dijadikan bahan bacaan dan menambah literatur di
jurusan Ilmu Komunikasi perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas
Binadarma Palembang.
BAB II
LANDASAN
TEORI
2.1. Hasil Penelitian Terdahulu
Kajian penelitian Budi Mansyah, (2017) dengan jurnalnya
yang berjudul “Penomena Berita Hoax Media Sosial facebook Dalam Menghadapi Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta Tahun
2017”. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui bagaimana pemaknaan bentuk dan
saluran, apa saja motif dari penyebaran berita hoax dan interaksi sosial fenomena berita hoax di sosial media facebook.
Teori yang digunakan adalah teori fenomenologi oleh Schulz dan S.O.R (Stimulus-Organisem-Respons), metode
yang digunakan adalah penelitian kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa, para pengguna facebook memaknai
berita hoax media sosial menjelang
pemilu DKI Jakarta meresahkan dan harus segera ditindak oleh Pemerintah sebagai
pemangku regulasi. Sama-sama membahas tentang berita hoax di media sosial facebook
dan menggunakan teori yang sama, perbedaannya penulis membahas tentang
penculikan anak di media sosial facebook
sedangkan peneliti terdahulu membahas tentang pemilihan umum Gebernur DKI
Jakarta Tahun 2017.
Kemudian Feranita, F. (2017) dengan jurnalnya yang
berjudul” Pengaruh Media Sosial Facebook Terhadap Hasil belajar Akidah Akhlak di MA
Syamsul Ulum Kota Suka Bumi Jawa Barat” penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui pengaruh media sosial facebook terhadap hasil belajar aqidah akhlak
di MA. Syamsul Ulum Kota Sukabumi. Teori yang digunakan yaitu teori S.O.R (Stimulus-Organisem-Respons) dan Metode
yang dipakai dalam penelitian ini merupakan penelitian kualitatif.
Hasil penelitian ini mengatakan bahwa
tidak terdapat pengaruh media sosial facebook terhadap hasil belajar siswa di MA. Syamsul
Ulum. Kesamaan dalam penelitian ini yaitu sama-sama membahas tentang pengaruh Media Sosial facebook dan perbedaannya penulis membahas tentang berita hoax
penculikan anak di media sosial facebook,
sedangkan peneliti terdahulu membahas tentang mata pelajaran agama.
2.2. Kerangka Teoritis
2.2.1 Teori S-O-R
Penelitian
ini model yang digunakan adalah model S-O-R (Stimulus, Organism, Respon). Teori
SOR sebagai singkatan dari Stimulus-Organism-Response. Objek materialnya adalah
manusia yang jiwanya meliputi komponen-komponen
: sikap, opini, perilaku, kognisi, afeksi dan konasi (McQuail, 2010:466).
Menurut
model ini, organism menghasilkan perilaku tertentu jika ada kondisi stimulus
khusus, sehingga seseorang dapat mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian
antara pesan dan reaksi komunikan. Asumsi dasar dari model ini adalah : media
massa menimbulkan efek yang terarah, segera dan langsung terhadap komunikan.
Stimulus Respon Theory atau S-R Theory. Model ini menunjukan bahwa komunikasi
merupakan proses aksi-komunikasi. Artinya model ini mengasumsi bahwa kata-kata
verbal, isyarat non verbal, simbol-simbol tertentu akan merangsang orang lain
memberikan respon dengan cara tertentu. Teori ini merupakan prinsip yang
sederhana dimana efek merupakan reksi terhadap stimulus tertentu. Dengan
demikian, seorang dapat menjelaskan suatu kaitan erat antara pesan-pesan media
dan reaksi audience.
Menurut
McQuail, (2010:467) Teori yang melandasi penelitian ini adalah teori S-O-R yang berkeyakinan bahwa penyebab sikap yang
dapatberubah tergantung pada kualitas rangsang yang berkomunikasi dengan
organisme. Inti dari teori ini adalah bahwa setiap proses efek media terhadap
individu, harus diawali dengan perhatian atau terpaan oleh beberapa pesan
media. Hasilnya menjangkau waktu dan membuat suatu perbedaan, seringnya pada
orang dalam jumlah banyak. Hal ini menunjukan masyarakat dan para orang tua
mendapatkan stimulus yaitu terpaan pesan dari berita-berita penculikan anak,
dan kemudian pada jangkah waktu tertentu menciptakan suatu perbedaan (pengaruh)
terhadap mereka.
Adapun keterkaitan model S-O-R dalam
penelitian ini adalah :
a. Stimulus
yang dimaksud adalah pesan yang disampaikan dalam sosial media facebook.
b. Organisme
yang dimaksudkan adalah masyarakat desa kasih raja kec.lubuk keliat, kab.ogan
ilir, palembang.
c. Respon
yang dimaksud adalah perubahan perilaku di kalangan masyarakat pengguna.
Menurut
Hosland, et al (1953) dalam McQuail, (2010:464) mengatakan bahwa proses
perubahan perilaku pada hakekatnya sama dengan proses belajar. Proses perubahan
perilaku tersebut menggambarkan proses belajar pada masyarakat yang terdiri
dari :
1. Stimulus
(rangsang) yang diberikan pada organisme dapat diterima atau ditolak. Apabila
stimulus tersebut tidak diterima atau ditolak berarti stimulus itu tidak
efektif mempengaruhi perhatian masyarakat dan berhenti disini. Tetapi bila
stimulus diterima oleh organisme berarti ada perhatian dari masyarakat dan
stimulus tersebut efektif.
2. Apabila
stimulus telah mendapat perhatian dari organisme (diterima) maka ia mengerti
stimulus ini dilanjutkan kepada proses berikutnya.
3. Setelah
itu organisme mengelolah stimulus tersebut sehingga terjadi kesediaan
untuk bertindak demi stimulus yang telah
diterimanya (bersikap)
4. Akhirnya
dengan dukungan fasilitas serta dorongan dari lingkungan maka stimulus tersebut
mempunyaiefek tindakan dari masyarakat tersebut (perubahan perilaku).
teori ini
mengatakan bahwa perubahan perilaku dapat beruba hanya apabila stimulus
(rangsang) yang diberikan benar-benar melebihi dari stimulus semula. Stimulus
yang dapat melebihi stimulus semula ini berarti stimulus yang diberikan harus
dapat meyakinkan organisme ini, reinforment
memegang peranan penting.
Stimulus
atau pesan yang disampaikan kepada komunikan mungkinditerima atau mungkin
ditolak. Komunikasi akan berlangsung jika perhatian komunikan. Proses
berikutnya komunikan mengerti. Kemampuan komunikan inilah yang melanjutkan
proses berikutnya Setelah mengolahnya dan menerimanya, Maka terjadilah kesedian
untuk mengubah sikap.
Teori
ini mendasarkan asumsi bahwa penyebab terjadinya perubahan perilaku tergantung
kepada kualitas rangsang (stimulus)
yang berkomunikasi dengan organisme. Artinya kualitas dari sumber komunikasi (soerces) misalnya kredibilitas,
kepemimpinan, gaya berbicara sangat menentukan keberhasilan perubahan perilaku
seseorang, kelompok atau masyarakat.
Teori S.O.R (Stimulus-Organism-Response) merupakan
proses komunikasi yang menimbulkan reaksi khusus, sehingga seseorang dapat
mengharapkan dan memperkirakan kesesuaian antara pesan dan reaksi komunikan.
Unsur-unsur pada model ini adalah pesan (Stimulus),
komunikan (Organism), dan efek (Response) (Effendy, 2003:254).
2.3 Komunikasi
2.3.1 Defenisi Komunikasi
Menurut Brent D. Ruben (dalam Arni, 2014
: 3) komunikasi manusia adalah suatu proses melalui mana individu dalam
hubungannya, dalam kelompok, dalam organisasi dan dalam masyarakat menciptakan,
mengirimkan, dan menggunakan informasi untuk mengkoordinasi lingkungannya dan
orang lain.
Manusia adalah makhluk sosial yang
menjalankan interaksi untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Komunikasi merupakan
suatu proses sosial yang mendasar dan vital dalam kehidupan manusia. Hal ini dikarenakan setiap manusia,
baik yang tradisional maupun modern selalu menjalankan proses komunikasi, ini
berhubungan dengan cara bagaiamana manusia mempertahankan hidupnya dengan cara
melakukan komunikasi (lasswell, 2005:38) baik menggunakan komunikasi verbal (bahasa dan lisan) maupun
non verbal (berupa simbol, lambang, dan gesture
tubuh).
Istilah
komunikasi atau comunication dalam
bahasa Inggris berasal dari kata Latin communis
yang berarti “sama” communico,
communicatio, atau communicare yang
berarti “membuat sama” (to make common).
Istilah pertama (communis) paling
sering disebut sebagai asal kata komunikasi, yang merupakan akar dari kata-kata
lainnya yang mirip. Komunikasi menyarankan bahwa suatu pikiran, suatu makna,
atau suatu pesan dianut secara sama. Akan tetapi definisi kontemporer
menyarankan bahwa komunikasi merujuk pada cara berbagi hal tersebut, seperti
dalam kalimat ‘kita berbagi pikiran,” “kita berbagi makna,” dan “kita
mengirimkan pesan.” ( Mulyana, 2005:38).
2.3.2 Model Komunikasi
Salah satu model komunikasi tua
tetapi masih digunakan orang untuk tujuan tertentu adalah model komunikasi yang
dikemukakan oleh Harold Lasswell : Forsdale 1981, (dalam Arni, 2014 : 5)
Gambar 1
=
|
Sumber Model Komunikasi Lasswell,
(dalam Arni, 2014 : 5)
a.
Who (siapa)
Menunjuk kepada siapa orang yang mengambil inisiatif untuk
memulai komunikasi. Yang memulai komunikasi dapat juga berupa seseorang dan
dapat juga sekelompok orang seperti organisasi atau persatuan.
b.
Says what (apa)
Pertanyaan ini adalah berhubungan dengan
isi komunikasi atau apa pesan yang disampaikan dalam komunikasi tersebut.
Umumnya kita menanyakan pertanyaan ini dalam pemikiran kita dalam berkomunikasi
tersebut.
c.
To whom
(penerima)
Menanyakan siapa yang menjadi audience atau penerima dari
komunikasi. Atau dengan kata lain kepada siapa komunikator berbicara atau
kepada siapa pesan yang ia ingin sampaikan diberikan.
d.
Through what
(media apa)
Yang dimaksudkan dengan media adalah alat
komunikasi, seperti berbicara, gerakan badan, kontak mata, sentuhan, radio,
televisi, surat, buku dan gambar. Yang diperhatikan dalam hal ini adalah tidak
semua media cocok untuk maksud tertentu.
e.
What effect (apa
efeknya)
Pertanyaan mengenai efek komunikasi
ini dapat menayakan 2 hal yaitu apa yang imgin dicapai dengan hasil komunikasi
tersebut dan apa yang dilakukan orang sebagai hasil dari komunikasi.
2.4 Komunikasi
Massa
2.4.1 Defenisi Komunikasi Massa
Macam-macam jenis komunikasi, seperti komunikasi
interpersonal, komunikasi antar personal, komunikasi kelompok, komunikasi
organisasi dan komunikasi massa. Jenis-jenis komunikasi ini memiliki
unsur-unsur komunikasi san juga fungsi-fungsi komunikasi yang sama, yang
membedakannya hanyalah sasaran pada komunikasi tersebut. Komunikasi antrar
pribadi berbicara mengenai komunikasi yang dilakukan dengan diri sendiri, antar
pribadi dengan satu atau dua orang, komunikasi kelompok dengan jumlah komunikan
yang lebih banyak dari komunikasi natar pribadi. Namun komunikasi massa yang
konteksnya mengenai penyampaian pesan dengan khalayak luas.
Komunikasi massa mengalami
perubahan yang sangat pesat dan apa yang dianggap sebagai kemajuan hari ini akan
dianggap kuno esok harinya Seperti Teori Turkle 1998 dalam Ricard West Lyyn H.
Turner (2009: 42 ), menyatakan bahwa
komputer mungkin akan mengubah pemahaman
kita terhadap diri sendiri, dalam hal ini dapat mempengaruhi proses komunikasi.
2.4.2. Pengertian Komunikasi Massa
Komunikasi Massa adalah jenis
komunikasi yang ditujukan kepada khalayak luas, bersifat heterogen dan
menimbulkan media-media elektronik sehingga memudahkan informasi atau pesan
sampai dalam waktu yang sama. Menurut
Jay Black Fredirck C (Nurdin, 2006:12) mendefiniskan komunikasi massa adalah
sebuah proses dimana pesan-pesan di produksi secara massal atau tidak sedikit,
ini disebabkan karena massa pada penerima dalam komunikasi massa bersifat luas
, anonim, dan heterogen.
Berdasakan pengertian mengenai komunikasi
yang diuraikan di atas, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa komunikasi massa
adalah komunikasi yang menggunakan media massa baik dalam bentuk media cetak
maupun elektronik, ditujukan kepada khalayak luas, yang bersifat anonim dan
heterogen.
Penulis
menyimpulkan dari beberapa terpaan media tersebut, terpaan media adalah
banyaknya informasi yang diperoleh dari media melalui kegiatan mendengar,
melihat, dan membaca informasi media
massa ataupun mempunyai pengalaman dan perhatian terhadap pesan tersebut dalam
memperoleh informasi.
2.4.3. Karakteristik Komunikasi Massa
Karakteristik komunikasi massa sebagai berikut (Arikunto,
2004:7-13) :
a. Komunikator terlembagakan
Karakteristik yang pertama si pemberi pesan (komunikator),
komunikasi massa harus dilakukan oleh lembaga atau organisasi yang cukup
kompleks.
b. Pesan bersifat umum
Pesan komunikasi massa bersifat umum. pesannya dapat berupa
fakta, peristiwa atau opini. Ini disebabkan karena komunikasi massa bersifat
terbuka dan ditujukan untuk masyarakat luas.
c. Komunikannya Anonim dan Heterogen
Dalam komunikasi massa, komunikator (pemberi pesan) tidak
mengenal komunikannya (penerima pesan). Karena proses komunikasi tidak secara
langsung tatap muka, melainkan menggunakan media massa.
d. Media Massa menimbulkan keserempakan
Komunikasi massa dengan daya penyebaran pesannya yang cukup
luas dan bahkan tidak terbatas memiliki kelebihan, yaitu mampu memberikan
informasi yang seragam dalam waktu bersamaan kepada komunikannya.
e. Komunikasi mengutamakan isi
ketimbang hubungan
Prinsip komunikasi adalah bahwa komunikasi mempunyai dimensi
isi dan hubungan.
f. Komunikasi massa bersifat satu arah
Komunikator aktif menyampaikan pesan, komunikan aktif juga
menerima pesan. Namun, keduanya tidak dapat melakukan dialog sebagaimana
komunikasi antarpersonal.
g. Stimulus alat indera terbatas
Berbeda dengan komunikasi antarpersonal yang dapat
mengoptimalkan seluruh alat indra, komunikasi massa terbilang cukup terbatas.
Penggunaan alat indra tergantung pada jenis media massa.
h. Umpan balik tertunda
Umpan
balik (Feedback) adalah faktor
penting dalam proses komunikasi antarpersonal, komunikasi kelompok, dan
komunikasi massa. Namun komunikasi massa memiliki umpan balik yang tertunda (delayed).
2.4.4. Bentuk-Bentuk
Media Massa
Media pada dasarnya dapat dibagi
menjadi dua kategori, yakni media massa cetak dan media elektronik. Media cetak
dapat memenuhi kriteria sebagai media massa adalah surat kabar dan majalah.
Sedangkan media elektronik yang memenuhi kriteria media massa adalah radio dan
televisi, film, media on-line (internet). Setiap media cetak memiliki
karakteristik yang khas. Bab ini akan membahas mengenai media massa secara
perinci.
a.
Surat
Kabar
b.
Majalah
c.
Radio
Siaran
d.
Televisi
e.
Film
f.
Komputer
dan Internet
Menurut Laquey (1997 dalam buku Ardianto,
lukiati, dan Siti), asal mula internet tercipta oleh suatu ledakan tak terduga
di tahun 1969, yaitu dengan lahirnya Arpanet, suatu proyek eksperimen
kementerian pertahanan Amerika Serikat bernama DARPA (Departemen of Defense
Advanced Research Projects Agency). Misi awalnya sederhana, yaitu mencoba
menggali teknologi jaringan yang dapat menghubungkan para peneliti dengan
berbagai sumber daya yang jauh seperti sistem komputer dan pangkalan data yang besar. Arpanet
berhasil membantu membudip-dayakan sejumlah
jaringan lainnya, yang kemudian saling berhubungan.
Pertumbuhan dan kelarisan internet
dapat dibandingkan dengan perkembangan mesin faksimili pada akhir dasawarsa
1980an. Siste m faksimili yang mendunia itu tidaklah dibangun dalam waktu
semalam, ia berkembang dari beberapa mesin faksimili di sini dan di sana.
Ketika kalangan bisnis mulai menyadari akan manfaat dan daya gunanya, kehadiran
mesin faksimili menjadi hal yang lumrah. Nilai setiap mesin faksimili terus
meningkat dan semakin mudah untuk diperoleh.
pertumbuhan jenis sumberdaya yang
terakses melalui internet sungguh mencengangkan. Istilah sumberdaya menyatakan
segala sesuatu yang dapat mengakses pada internet, tak peduli diamanpun
lokasinya. Informasi yang tersedia di internet jumlahnya terus meningkat.
Internet ibarat cairan yang berubahsetap detik, begitu beritanya mengalir, amka
pandangan yang berbeda, laporan dan aneka pendapat mengairi berbagai arsif dan
forum.
2.5 Media
2.5.1 Defenisi Media
Secara sederhana,
istilah media bisa dijelaskan sebagai alat komunikasi sebagaimana defenisi yang
selama ini diketahui, Menurut Laughey,2007: McQuail, 2003 (dalam Nasrullah,
2017:3). Media yang muncul bersamaan dengan itu adalah sarana disertai dengan
teknologinya. Koran merupakan representasi dari media cetak, sementara radio
yang merupakan media audio dan televisi sebagai media audio-visual merupakan
representasi dari media elektronik, dan internet merupakan representasi dari
media online atau dalam jaringan.
Terlepas
dari cara pandang melihat media dari bentuk dan teknologinya, pengungkapan kata
“media” bisa dipahami dengan melihat dari proses komunikasi itu sendiri
(Meyrowitz, 1999 : Moores, 2005 : Wiliams, 2003). Proses terjadinya komunikasi
memerlukan tiga hal yaitu, objek, organ, dan medium.
Beragam
kriteria bisa dibuat untuk melihat bagaimana media itu. Ada yang membuat
kriteria media berdasarkan teknologinya, seperti media cetak yang menunjukkan
bahwa media tersebut dibuat dengan mesin cetak dan media elektronik yang
dihasilkan dari perangkat elektronik. Dari sumber atau organ yang menjelaskan
bagaimana cara mendapatkan atau bagaimana kode-kode pesan itu diolah, misalnya
media audio-visual yang diakses menggunakan organ pendengaran dan penglihatan.
Ada juga yang menuliskan bagaimana pesan itu disebarkan. Contohnya, media
penyiaran (broadcast) dimana media merupakan pusat produksi pesan, seperti
stasiun televisi, dan pesan itu disebarkan serta bisa dinikmati oleh siapa saja
asal memilki pesawat televisi. Atau berdasarkan teknologi, pola penyebaran,
sampai pada bagaimana khalayak mengakses media, seperti media lama(old media)
dan media baru (new media).
Membagi
media kriteria-kriteria tertentu akan memudahkan siapa pun untuk melihat media.
Ada tiga ungkapan untuk melihat medium menurut Meyrowitz 1999 (dalam Nasrullah
2017:4) yaitu : Medium sebagai saluran (medium-as-vessel/conduit).
Seperti sebuah saluran air, pipa merupakan sarana yang membawa air sesuai
dengan alur yang disiapkan. Medium adalah saluran yang membawa pesanatau dalam
contoh nyatanya suara adalah konten yang dibawa radio. Ketika orang ingin
mendengarkan siaran pertandingan bulu tangkis melalui radio diperlukan
perangkat radio untuk menangkap sinyal dari stasiun radio, hanay dalam konteks
ini konten ahrus dimaknai berbeda dengan bagaimana medium ini membawanya. Betul
suara atau radio adalah pesan yang dibawa oleh perangkat radio, namun yang
menimbulkan reaksi adalah isi pesan. Meyrowitz, 1995, 1999 :45 (dalam Nasrullah
2017:5).
Medium adalah bahasa (medium-as-language). Medium adalah
bahasa itu sendiri. Ini bermakna bahwa media memiliki sesuatu yang unik yang
bisa mewakili ekspresi atau mengandung suatu pesan (Meyrowitz, 1999 : 46).
Pengalaman emosi yang muncul dengan prantara medium bisa jadi sama dan berbeda
antara si pembuat pesan dengan penerima pesan.
2.6 Sosial
2.6.1 Defenisi Sosial
Kata
sosial dalam media sosial secara teori semestinya didekati oleh ranah
sosiologi. Inilah yang menurut Fuchs. 2004 (dalam Nasrullah 2017:6).
ada beberapa pertanyaan dasar ketika
melihat kata sosial, misalnya terkait dengan informasi dan kesadaran. Ada
pertanyaan dasar, seperti apakah individu itu adalah manusia yang selalu
berkarakter sosial atau individu itu baru dikatakan sosial ketika ia secara
sadar melakukan interaksi.
Secara
teori, ketika membahas kata sosial, ada
kesalah pahaman bahwa indiviud-individu yang ada di dalam komunitas itu tidak
hanya berada dalam sebuah lingkungan. Anggota komunitas harus berkolaburasi
hingga bekerja sama karena inilah karakter dari sosial itu sendiri. Fuchs, 2014
: 45, (dalam Nasrullah 2017:7).
Menurut Weber (dalam Nasrullah 2017:7),
kata sosial secara sederhana merujuk
pada relasi sosial. Relasi sosial itu sendiri bisa dilihat dalam
kategori aksi sosial (social action) dan relasi sosial (social relations).
Kategori ini mampu membawa penjelasan tentang apa yang dimaksud dengan aktivitas sosial dan aktivitas
individual, Weber, 1978 : 26 dalam Fuchs, 2014 : 38, (dalam Nasrullah 2017:7).
Namun diperlukan simbol-simbol yang bermakna di antara individu yang menjadi
aktor dalam relasi tersebut.
2.7. Media Sosial
2.7.1 Defenisi Media Sosial
Dua pengertian tentang media dan sosial telah dijelaskan,
namun tidak mudah membuat defenisi tentang media sosial berdasarkan perangkat teknologi semata.
Diperlukan pendekatan dari teori-teori sosial. Untuk memperjelas apa yang
membedakan antara media sosial dan media lainnya di internet sebelum pada
kesimpulan apa yang dimaksud dengan media sosial. Perlunya pembahasan khusus
untuk mencari hubungan antara media dan masyarakat (Burton, 2005 dalam
Nasrullah 2017:8).
Fuchs mengawalinya dengan perkembangan kata web 2.0 yang dipopulerkan oleh O’Reilly
(2005). Web 2.0 merujuk dari media internet yang tidak lagi sekadar penghubung
anatara individu dengan perangkat (teknologi dan jaringan) komputer yang selama
ini ada dan terjadi dalam web 1.0, tetapi tealh melibatkan individu untuk
mempublikasikan secara bersama, saling mengolah
dan melengkapi data, web sebagai platform atau program yang bisa dikembangkan, sampai pada pengguna
dengan jaringan dan alur yang sangat panjang (the long tail).
Berdasarkan
teori-teori yang dikembangkan oleh Durkheim, Weber, Tonnies, maupun Marx,
(dalam Nasrullah 2017:8) dapat disimpulakn bahwa media sosial bisa dilihat dari
perkembangan bagaimana hubungan individu dengan perangkat media.
2.7.2 Karakteristik
Media Sosial
Karakteristik media sosial Menurut Castells, 2004 : Talalay et al., 1997 : Thurlow, Lengel,
& Tomic, 2004 (dalam Nasrullah 2017:15) yaitu :
1. Jaringan (Network)
Kata jaringan (network) bisa
dipahami dalam terminologi bidang teknologi seperti ilmu komputer yang berarti
infrastruktur yang menghubungkan antara komputer maupun perangkat keras
(hardwere) lainnya.
2.
Informasi
(Informatoins)
Informasi menjadi entitas yang
penting dari media sosial. Mengapa? Sebab tidak seperti media-media lainnya di
internet, pengguna media sosial mengkreasikan representasi identitasnya, memproduksi konten, dan
melakukan interaksi berdasarkan informasi ( informasi
3. Arsip (Archive)
Bagi pengguna media sosial, arsip
menjadi sebuah karakter yang menjelaskan bahwa informasi telah tersimpan dan
bisa diakses kapanpun dan melalui perangkat apapun.
4. Interaksi (Intractivity)
Karakter dasar dari media sosial
adalah terbentuknya jaringan antarpengguna. Jaringan ini tidak sekadar
memperluas hubungan pertemanan atau pengikut (follower) di internet semata,
tetapi harus juga dibangun sengan interaksi antarpengguna tersebut.
5. Simulasi (Simulation) Sosial
Media sosial memiliki karakter
sebagai medium berlangsungnya masyarakat (society) di dunia virtual. Meski
pada awal pembahasan buku ini media sosial didekati dengan teori-teori sosial,
media sosial memiliki keunikan dan pola yang dalam banyak kasus bisa berbeda dan tidak dijumpai dalam tatanan
masyarakat yang real.
6. Konten Oleh Pengguna (User Generated Content)
Karakteristik media sosial lainnya
adalah konten oleh pengguna atau lebih populer disebut dengan user generated
content (UGC).
7. Penyebaran (Share/Sharing)
Penyebaran
(share/sharing) merupakan karakter
lainnya dari media sosial. Medium ini tidak hanya menghasilkan konten yang
dibangun dari dan dikonsumsi oleh penggunanya, tetapi juga didistribusikan sekaligus
dikembangkan oleh penggunanya.
2.7.3 Jenis-Jenis
Media Sosial
Banyak
sumber, terutama liputan media maupun kajian literatur, yang membagi jenis
media sosial. Dari berbagai sumber tersebut dapat disimpulkan ada enam kategori
besar untuk melihat pembagian media sosial, (Nasrullah 2017:39) yaitu :
1. Media Jejaring Sosial (social networking)
2. Jurnal online (blog)
3.
Jurnal
Online sederhana atau mikroblog (microblogging)
4.
Media
Berbagi ( media sharing)
5. Penanda Sosial (social Boormarking)
6. Media konten bersama atau Wiki.
2.7.4 Realitas
Media Sosial - Siber
Media sosial merupakan medium digital tempat realitas sosial
terjadi dan ruang waktu para penggunanya berinteraksi. Nilai-nilai yang ada di
masyarakat maupun komunitas juga muncul dalam bentuk yang sama atau berbeda di
internet. Namun, pada dasarnya beberapa akademis i yang meneliti internet
melihat bahwa media sosial di internet adalah gambaran apa yang terjadi di
dunia nyata. Seperti plagiarisme, dalam banyak kasus sumber awal sebuah
konten di internet tidak diketahui
sehingga dapat dipergunakan oleh pengguna lain dan dipublikasikan di media
sosial miliknya (copy paste).
Nilai-nilai ini tetap berlaku di media sosial dan sanksi maupun hukuman
terhadap pelanggaran ini tetap ada walau tidak dalam bentuk fisik.
Contoh
lain, Facebook memiliki fasilitas perangkat opsi terhadap
sebuah konten. Pengguna lain bisa memilih apakah sebuah status yang
dipublikasikan oleh seseorang ingin di lihat atau disembunyikan dan sampai pada
apakah pengguna ingin mengikuti atau berhenti mengikuti apa saja yang
disampaikan oleh sebuah akun (Menurut Nasrullah, 2017:51).
2.8 Pengaruh
2.8.1 Defenisi Pengaruh
Menurut Poerdarminta (2003:865) pengaruh
adalah daya yang ada atau yang timbul dari sesuatu (orang, benda, dan
sebagainya) yang berkuasa atau yang berkekuatan (gaib dan sebagainya).
Penjelasan
ini menyimpulkan terdapat umpan balik dari seseorang, benda ataupun sebagainya
yang dapat memberiakn efek yang sesungguhnya.
Selain
itu Menurut H.Hafied Cangara dalam
bukunya (2011:185), pengaruh adalah salah satu element dalam komunikasi yang
sangat penting untuk mengetahui besar tidaknya komunikasi yang kita inginkan,
pengaruh dapat dikatakan mengenai jika perubahan (P) yang terjadi pada penerima
sama dengan tujuan (T) yang
diinginkan komunikator (P=T), atau seperti rumus yang dibuat oleh Jamias
(1998), yakni pengaruh (P) sangat ditentukan oleh sumber, pesan, media, dan
penerima (P=S/P/M/P).
Berdasarkan penjelasan diatas, maka
penelitian menyimpulkan bahwa pengaruh adalah efek yang timbul akibat dari kejadian
yang telah kita alami dan merupakan salah satu element dalam komunikasi yang
sangat penting untuk mengetahui besar tidaknya komunikasi yang kita inginkan.
2.9. Berita
2.9.1 Defenisi Berita
Berita adalah laporan mengenai peristiwa yang
ada di masyarakat dan sekitarnya yang disampaikan melalui media massa. Ermanto,
(2005:78) dalam bukunya mengatakan bahwa sebaagi mahluk sosial, manusia akan
selalu membutuhkan media atau informasi untuk menambah wawasannya dan
mendewasakan alam berpikirnya.
M.
Atar Seni (1995:11) menyatakan bahwa berita adalah cerita atau laporan mengenai
kejadian atau peristiwa yang faktual yang baru dan luar biasa sifatnya.
Sementara (Djuroto, 2004:47) mendefenisikan tentang berita yaitu berita sebagai
laporan tentang peristiwa atau pendapat yang memiliki nilai yang penting dan
menarik bagi sebagian khalayak, bersifat baru dan dipublikasikan secara luas
melalui media massa. Peristiwa atau pendapat tidak akan menjadi berita, bila
tidak dipublikasikan media massa secara periodik.
Berdasarkan
penjelasan diatas, maka dapat disimpulkan bahwa tidak semua peristiwa atau
kejadian dapat di katakan sebagai berita. Berita harus memiliki nilai seperti
sesuatu yang dianggap penting oleh khalayak, memiliki daya tarik dan
sebagainya.
Selanjutnya
Dja’far H assegaf (1991:24) mendefenisikan berita sebagai laporan tentang fakta
atau ide yang terkini, yang dipilih staf redaksi suatu harian untuk disiarkan,
yang dapat menarik perhatian pembaca. Defenisi lainnya diberikan oleh
(Sumadiria, 2005:65) yakni, berita merupakan suatu laporan tercepat mengenai
fakta atau ide terbaru yang benar, menarik, dan penting bagi sebagian besar
khalayak, melalui media berkala seperti surat kabar, radio, televisi, atau media
online internet.
Kesimpulan
dari penjelasan ini bahwa berita adalah sebuah informasi terhangat yang
tersebar melalui media massa yang disiarkan setiap harinya yang memiliki daya
tarik untuk pembaca dan pendengar.
Erianto, (2002: 106-107) menjelaskan nilai
berita sangat menentukan bukan hanya peristiwa apa saja yang diberitakan,
melainkan bagaiamana peristiwa itu dikemas dan disajikan. Ini merupakan
prosedur awal dari bagaimana peristiwa dikontruksi. Ukuran-ukuran yang dipakai
untuk memilih sebuah realitas peristiwa oleh wartawan adalah ukuran profesional yang dinamakan sebagai
nilai berita.
Kesimpulan di atas menyimpulkan bahwa berita
memiliki nilai tersendiri segi dari isi, ukuran ke profesionalannya dan penyajiannya dalam membuat berita.
2.9.2 Unsur – Unsur Layak Berita
Menurut
Budayana, (2012:47)”wartawan indonesia menyajikan berita secara berimbang dan
adil, mengutamakan kecermatan dan ketepatan, serta tidak mencampurkan fakta dan
opini sendiri. Tulisan berisi interpretasi dan opini wartawan agar disajikan
dengan menggunakan nama jelas penulisnya”.
Ketentuan yangditetapkan oleh kode etik
jurnalistik itu menjadi jelas kepada kita bahwa berita pertama-tama harus
cermat dan tepat atau dalam bahasa jurnalistik harus akurat, selain cermat dan
tepat, berita juga ahrus lengkap (Complete),
adil (fair) dan berimbang (balanced). Kemudian pun berita harus
tidak mencampurkan fakta dan opini sendiri atau dalam bahasa akademis disebut
objektif. Dan yang merupakan syarat praktis tentang penulisan berita, tentu
saja berita itu harus ringkas (consise),
jelas (clear), dan hangat (current).
2.9.3 Nilai Berita
Menurut
Budayana, (2012:49) Nilai berita
memang tidak dapat terlepas dari unsur pelaporan suatu peristiwa tertentu. Akan
tetapi, tidak semua kejadian atau peristiwa dapat dilaporkan kepada khalayak
sebagai berita. Agar berita dapat bermanfaat bagi kepentingan banyak orang,
berita harus memiliki nilai berita. Nilai-nilai berita yang dimaksud antara
lain sebagai berikut :
1. Keluar
biasaan
2. Kebaruan
(aktual)
3. Kedekatan
4. Menimbulkan
ketertarikan manusiawi (Human Interest)
5. Berhubungan
dengan orang penting
6. Menimbulkan
dampak bagi masyarakat
7. Informative
Dalam kehidupan masyarakat, informasi
menjadi kebutuhan pokok. Oleh sebab itu.
Media berusaha mengumpulkan, mengelolah, dan menyebarkan berbagai informasi
yang dibutuhkan oleh masyarakat.
2.10. Hoax
2.10.1 Defenisi Hoax
Secara
singkat hoax adalah informasi yang
tidak benar. Dalam cambridge dictionary,
kata hoax sendiri berarti tipuan atau
lelucon. Kegiatan menipu, trik penipuan, rencana penipuan disebut dengan hoax. Kemudian, kemudian situs hoaxes.org dalam konteks budaya
mengarahkan pengertian hoax sebagai
aktivitas menipu. “ketika koran sengaja mencetak cerita palsu, kita menyebutnya
hoax”. Kita juga menggambarkanya
sebagai aksi pubilisitas ynag menyesatkan, ancaman bom palsu, penipuan bisnis,
dan klaim politik palsu sebagai hoax.
Oleh karena itu, dalam penelitian ini dipilih istilah “informasi hoax” sebagai salah satu konsep
penelitian. Pemilihan istilah ini didasarkan pada pengertian dasar kata hoax itu sendiri (tipuan), dan bentuknya
yang berupa informasi ketika disebarkan (sebagai objek) di Facebook. Dengan demikian “informasi hoax” yang dimaksud dalam penelitian ini adalah “informasi tipuan”.
Menurut
David Harley dalam buku Common Hoaxes and
Chain Letters (2008:8), ada beberapa aturan praktis yang dapat digunakan
untuk mengidentifikasi hoax secara
umum.
1.
Informasi hoax biasanya memiliki karakteristik surat berantai dengan
menyertakan kalimat seperti “Sebarkan ini ke semua orang yang anda tahu, jika
tidak, sesuatu yang tidak menyenangkan akan terjadi.
2.
Informasi hoax biasanya tidak menyertakan tanggal kejadian atau tidak memiliki
tanggal yang realistis atau bisa diverifikasi, misalnya “kemarin” atau
“dikeluarkan oleh” pernyataan-pernyataan yang tidak menunjukkan sebuah
kejelasan.
3.
Informasi hoax biasanya tidak memilki tanggal kadaluwarsa pada peringatan
informasi, meskipun sebenarnya kehadiran tanggal tersebut juga tidak akan
membuktikan apa-apa, tetapi dapat menimbulkan efek keresahan yang
berkepanjangan.
4.
Tidak ada organisasi yang dapat
diidentifikasi yang dikutip sebagai sumber informasi atau menyertakan
organisasi tetapi biasanya tidak terkait dengan informasi.
Lebih lanjut Harley menyebutkan bahwa
kebanyakan informasi hoax beredar
dari niat baik untuk menunjukkan perhatian atau membantu orang lain. Tetapi ada
juga informasi hoax yang dimaksudkan untuk kesenangan personal ketika berhasil
menipu orang lain. Harley mengatakan bahwa informasi hoax masih akan terus berkembang seiring dengan perkembangan
kemajuan jaman. Ada juga esensinya benar tetapi kegunaan dan nilainya
dipertanyakan disebut Harley dengan semi-hoax.
2.10.2 Ciri-Ciri dari Sebuah Berita Hoax
Berikut adalah 4 ciri berita hoax menurut David Harley (2008 : 9)
antara lain sebagai berikut :
1.
Mengajak Menyebarkan Informasi Seluas-luasnya.
2.
Tidak Mencantumkan Tanggal dan Deadline.
3.
Tidak Mencantumkan Sumber yang Valid
4.
Memakai Nama Dua Perusahaan Besar
Meskipun dalam informasi yang
memuat tanggal pembuatan/penyebaran dan tanggal kadaluarsa informasi juga
terkadang tidak dapat membuktikan bahwa informasi tersebut bukan hoax,
Keempat ciri-ciri ini setidaknya
dapat membantu kita dalam memfokuskan lokus pemikiran kita ketika berhadapan
dengan sebuah informasi. Sehingga idealnya kita harus bersikap skeptis terhadap
setiap informasi yang ditemui sekalipun terlihat benar, lengkap, dan sangat
meyakinkan.
2.11. Penculikan Anak
2.11.1 Defenisi Penculikan Anak
Kamus
Umum Besar Indonesia (2003) mengartikan penculikan sebagai culik-menyulik,
mencuri atau melarikan orang lain dengan maksud-maksud tertentu (dibunuh,
dijadikan sandra).penculik adalah orang yang menculik dan penculikan adalah
proses, perbuatan, cara menculik. Pada penelitian ini aadalah sasaran
penculikan adalah anak-anak.
Undang-Undang RI. No 4 tahun 1979
tentang kesejahteraan anak pasal 1 ayat (2) menyebutkan bahwa”anak adalah
seseorang yang belum mencapai umur 21 (dua puluh satu) tahun dan belum perna
kawin”. Aritoteles, (2009:23) menggambarkan individu, sejak anak-anak sampai
dewasa ini ke dalam tiga tahapan, yaitu :
Tahap
I : dari 0-7 tahun ( masa anak
kecil atau masa bermain).
Tahap
II : dari 7-14 tahun (masa
anak-anak, masa sekolah rendah).
Tahap
III : dari 14-21 tahun ( masa
remaja/pubertas, masa peralihan dari usia anak menjadi orang dewasa.
Sedangkan
fase-fase perkembangan individu yaitu :
0-6
tahun : masa usia pra sekolah
6-12
tahun : masa usia sekolah dasar
12-18
tahun : masa usia sekolah menengah
18-25
tahun : masa usia mahasiswa
2.11.2
BeritaPenculikan Anak Tertinggi 2016
Menurut
DATABOKS, Jum'at, 23 Desember 2016 Berdasarkan data Kepolisian yang dicatat
Badan Pusat Statistik (BPS), provinsi dengan kejadian penculikan terbanyak pada
2016 adalah DKI Jakarta, yakni 56 kasus. Adapun provinsi dengan
kasus penculikan terbesar lainnya adalah Sumatera Selatan sebanyak 48
kejadian, Aceh terdapat 38 kasus dan Jawa Timur 37 penculikan. Angka ini
merupakan kasus yang tercatat di kepolisian. Jumlah riil di lapangan bisa jadi
jauh lebih tinggi lagi.
Kejadian
kejahatan dengan penculikan pada 2016 mencapai 380 kasus yang tercatat oleh
kepolisian. Angka ini cenderung meningkat selama periode 2011–2016. Kejadian
penculikan kerap terjadi pada anak-anak dengan kondisi ekonomi yang tinggi.
Alasan atau motif penculikan bisa bermacam-macam, namun alasan ekonomi
masih menjadi yang paling tinggi. Dengan melakukan penculikan terhadap
anak-anak, para pelaku nantinya mengharapkan tebusan berupa uang dari orang tua
korban.
Dari pengertian penculikan anak tersebut
peneliti menyimpulkan penculikan anak adalah suatu tindakan pencurian anak yang
masih membutuhkan kasih sayang, pemeliharaan, dan tempat bagi perkembangannya
dengan berbagai maksud seperti dengan menginginkan uang, balas dendam,
dijadikan sasaran pemerkosaan ataupun diperdagangkan. Penculikan anak ini
merupakan tindakan melanggar hukum karena dilakukan merampas paksa hak orang
lain yang dilakukan terhadap anak-anak.
2.12 Facebook
2.12.1 Defenisi Facebook
Facebook
adalah salah satu dari sekian banyak Social
Network atau Situs Jejaring Sosial
yang ada di jagad web. Bila sebelumnya telah mengenal MySpace atau Friendster,
maka Facebook pun tak jauh berbeda
seperti kedua Social Network tersebut.
Facebook dibuat oleh Mark Zukerbeg yang
diluncurkan pada 4 februari 2004. Dia adalah orang Amerika keturunan yahudi
salah satu dari tiga pendiri facebook
yang saat ini bertindak sebagai SEO facebook.
Fitur yang ditawarkan Facebook
sebagai situs jejaring sosial membuat banyak orang menggunakannya. Menurut
Jubilee Enterprise (2010: 79), Indonesia merupakan salah satu pengguna Facebook terbesar dengan jumlah user sekitar
17,6 juta orang. Awal-awalnya berdiri facebook
hanya ditujukan untuk kalangan
mahasiswa Universitas Harvard.
Baru di tahun 2005 Facebook membuka
keanggotaan untuk kalangan anak sekolah.
Setahun
kemudian tepatnya tahun 2006 Facebook
membuka keanggotaan secara universal alias siapa saja, dari belahan bumi
manapun, orang bisa bergabung dengan facebook.
Facebook tealh menjadi situs sosial netrworking terbesar saat ini, ada
begitu banyak manfaat facebook yang
bisa kita gunakan, sebagai tempat untuk mencari teman, tempat promosi, tempat
diskusi, tempat belajar dan bermain. disamping mempunyai manfaat facebook juga mempunyai kerugian, mengurangi
waktu efektif, pornografi, menghabiskan uang, kerjaan tidak dihiraukan,
meningkatkan rasa cemburu, menimbulkan pertengkaran keluarga. di samping
kerugian facebook juga memiliki
keuntungan, sebagai tempat menjalin silaturahmi, tempat belajar, Refresing,
Bisnis, Tempat curhat, Praktis dan lain-lain.
2.13. Hal yang Menyebabkan Facebook Digemari Oleh Masyarakat
Situs pertemanan Facebook memungkinkan seseorang untuk
menemukan teman lama, menemukan teman baru, menjalin pertemanan, bergabung
dalam komunitas seperti kota, kerja, sekolah, dan daerah untuk melakukan
koneksi dan berinteraksi dengan orang lain, mengirimkan pesan dan komentar.
Fasilitas-fasilitas lainnya selain
fasilitas utama yang disebutkan diatas, masih sangat banyak yang ditawarkan,
baik secara foraml atau nonformal, independen atau dependen. Saat ini, jumlah Facebooker Indonesia jauh melebihi
penggunan di Singapura dan Malaysia. Padahal Facebook hingga pertengahan 2007 nyaris tidak dilirik pengguna
internet di Indonesia, akan tetapi memasuki pertengahan 2008, jumlah akses ke
situs ini melonjak tajam dan menempatkannya sebagai situs rangking kelima yang
paling banyak diakses di Indoesia.
2.14. Perilaku
2.14.1 Defenisi
Perilaku
Prilaku
dalam kamus besar indonesia adalah tingkah laku atau perbuatan individu atau
tanggapan individu yang terwujud dalam gerakan atau sikap (Walgio, 1990 150).
Setiap manusia pastilah memiliki perilaku yang berbeda-beda antara yang satu
dengan yang lainnya. Perilaku adalah respon individu terhadap suatu stimulus
atau suatu tindakan yang dapat diamati dan mempunyai frekuensi spesifik, durasi
dan tujuan dan baik disadari ataupun tidak. Seiring dengan tidak disadari bahwa
interaksi itu sangat kompleks sehingga kadang-kadang kita tidak sempat
memikirkan penyebabnya seseorang menerapkan perilaku tertentu.
Karena itu amat penting untuk dapat
meneliti alasan dibalik perilaku individu. Selama ia mampu mengubah perilaku
tersebut. Menurut Walgio (1980:12-13), perilaku manusia dapat antara perilaku
yang refleksi dan perilaku non-refleksi. Reaksi atau perilaku refleksi adalah
perilaku yang terjadi pada sendirinya, secara otomatis. Setimulus yang diterima
organism atau individu tidak sampai ke pusat susunan saraf atauotak, sebagai
pusat kesadaran, sebagai pusat pengendali dari sifat manusia. Misalnya reaksi
kedip mata bila terkenal sinar matahari, gerak lutut bila terkena sentuhan
palu, menarik jari bila terkena api dan sebagainya.
2.14.2 Faktor-Faktor Personal yang mempengaruhi
Perilaku Manusia
Ada delapan faktor
menurut Rakhmat (2011 :32-42) yaitu :
1.
Faktor Biologis
Pertama, telah diakui
secara meluas adanya perilaku tertentu yang merupakan bawaan manusia, dan bukan
pengaruh lingkungan atau situasi.
Kedua, diakui pula
adanya faktor-faktor biologis yang mendorong perilaku manusia, yang lazim
disebut sebagai motif biologis.
2.
Faktor Sosiopsikologis
Terbagi
menjadi tiga komponen yaitu :a. komponen kognitif adalah aspek intelektual,
yang berkaitan dengan apa yang diketahui manusia, b. komponen konatif adalah
aspek volisional, yang berhubungan dengan kebiasaan dan kemauan bertindak. Dan
komponen afektif adalah yang terdiri atas motif sosiogenis, sikap, dan emosi.
3.
Motif Sosiogenis
Motif
ini sering juga disebut motif sekunder sebagai lawan motif primer (motif
biologis), sebetulnya bukan motif “anak bawang”. Peranannya dalam membentuk
perilaku sosial bahkan sangat menentukan
4.
Sikap
Sikap
adalah konsep yang paling penting dalam psikologi sosial dan yang paling banyak
didefenisikan. Ada yang menganggap sikap hanyalah sejenis motif sosiogenis yang
diperoleh melalui proses belajar (sherif dan sherif, 1956:489). Ada pula yang
melihat sikap sebagai kesiapan saraf (neural settings) sebelum memberikan
respon (Allport,1924).
Dari beberapa defenisi kita simpulkan pertama, sikap
adalah kecenderungan bertindak, berepsesi, berpikir, dan merasa dalam
menghadapi objek, ide, situasi atau nilai.
5.
Emosi
Emosi
mennunjukkan kegoncangan organisme yang disertai oleh gejala-gejala kesadaran,
keperilakuan, dan proses fisikologis.
6.
Kepercayaan
Kepercayaan
adalah komponen kognitif dari faktor sosiopsikologis. Kepercayaan disini tidak
ada hubungannya dengan hal-hal gaib, tetapi hanyalah “keyakinan bahwa sesuatu
itu ‘benar’ atau ‘salah’ atas dasar bukti, sugesti otoritas, pengalaman, atau
intuisi” (hohler, et al,. 1978:48).
7.
Kebiasaan
Kebiasaan
adalah aspek perilaku yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak
direncanakan.
8.
Kemauan
Kemauanlah yang membuat
orang besar atau kecil.Kemauan erat kaitan dengan tindakan, bahkan ada yang
mendefenisikan kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk
mencapai tujuan.
2.15. Masyarakat
2.15.1. Defenisi
Masyarakat
Mayarakat
ialah satu kumpulan manusia yang berinteraksi dalam kawasan atau sempadan yang
telah ditetapkan dan dibimbing oleh satu budaya yang dikongsi bersama. Menurut
Richard T. Scharfer, (2003:41) masyarakat ialah “ a fairly large number of people wholive in the same teritory, are
relatively independent of people outside, it and participate in a common
culture.”
Menurut
Koenjaraningrat (2012:122) “masyarakat merupakan kesatuan hidup manusia yang
berinteraksi sesuai dengan sistem, adat-istiadat tertentu yang sifatnya berkesinambungan
dan terikat oleh suatu rasa identitas bersama”.
Berdasarkan
pengertian diatas penulis menyimpulkan bahwa masyarakat adalah sebuah kehidupan
yang berjalan sesuai dengan peraturan-peraturan yang dibuat oleh masyarakat itu
sendiri sehingga terciptalah sebuah kehidupan bermasyarakat.
Conte
dalam Syani (2012:31) menyatakan
“masyrakat merupakan kelompok makluk hidup dengan realititas baru yang
berkembang menurut hukum-hukumnya sendiri dengan berkembang menurut pola
perkembangannya tersendiri. Masyarakat sebagai community dapat dilihat dari dua sudut pandang : pertama memandang community sebagai unsur statis, artinya
community terbentuk dalam suatu wadah/tempat dengan batas-batas tertentu.
Kedua, Community dipandang sebagai
unsur yang dinamis, artinya menyangkut suatu proses yang terbentuk melalui
faktor psikologis dan hubungan antar manusia, maka didalamnya terkandung
unsur-unsur kepentingan, keinginan atau tujuan yang bersifat fungsional.
Hal
tersebut menunjukkan bagian dari kesatuan masyarakat sehingga ia dapat pula
disebut sebagai masyarakat setempat, misalnya kampung, dusun atau kota-kota
kecil. kehidupan mereka. Nilai-nilai yang dipegang akan mempengaruhi
perhubungan dan perlakuan diantara mereka dalam menentukan apa yang dikatakan
baik atau keji, betul atau salah, diingini dan tidak diingini.
Penulis
menyimpukan dari penjelasan diatas adalah Anggota masyarakat yang memahami
nilai budayanya akan tahu apa yang perlu mereka lakukan dalam hubungannya
dengan anggota yang lain dan akan tercipta masyarakat yang baik dan bermanfaat
sehingga masyarakat tersebut akan berlangsung kehidupannya dengan sendirinya.
2.16 Kerangka Berpikir
|
Gambar 2.3 Kerangkah
Pemikiran
2.17. Hipotesis
Penelitian
“Hipotesis dapat
diartikan sebagai suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan
penelitian sampai bukti melalui data terkumpul” (Arikunto, 2013:110).
Hipotesis
yang diajukan dalam penelitian ini adalah :
:
Berpengaruh Terhadap Prilaku Masyarakat desa Kasih RajaKec.Lubuk Keliat, Kab.
Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan.
:
tidak berpengaruh terhadap Prilaku Masyarakat
desa Kasih RajaKec. Lubuk Kelia Kab. Ogan Ilir
Provinsi Sumatera Selatan.
BAB III
METODE
PENELITIAN
3.1 Metode
Penelitian
Pada penelitian ini, peneliti
menggunakan metode deskriptif kuantitatif. Metode deskriptif merupakan metode
yang digunakan untuk mendeskripsikan atau memberi gambaran tentang objek yang
diteliti melalui data sampel atau populasi sebagaimana adanya (Sugiyono,
2014:14). Hal ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh Peredaran berita hoax di media sosial Facebook.
3.2 Defenisi Operasional Variabel
Defenisi
operasional variabel adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu varaibel
yang berguna sebagai pembatas yang bertujuan untuk menghindari agar tidak
terjadinya kesalahpahaman dari pengertian variabel tersebut sehingga dalam
penelitian ini perlu ditafsirkan agar tidak memberikan persepsi atau tanggapan
yang berbeda.
Oleh
karena itu agar lebih mudah memahami kedua variabel tersebut, penulis
menjabarkan operasionalisasi variabel-variabel tersebut yaitu sebagai berikut :
Tabel
3.1 Operasional Variabel
No.
|
Variabel
X
|
Dimensi
|
Indikator
|
Skala
|
1
|
Berita
Hoax
(David
Harley 2008:9)
|
Membuat
kalimat yang mengajak untuk menyebarkan informasi seluas-luasnya
|
1).
Membuat kalimat iinformasi dan
menyebarkannya
2). Mengajak untuk menyebarkan informasi
seluas-luasnya
|
Likert
|
Tidak
mencantumkan tanggal dan dedline
|
1).
Tidak mencantumkan tanggal
2).
Tidak mencantumkan deadline
|
Likert
|
||
Tidak
mencantumkan sumber yang valid
|
1). tidak mencantumkan sumber yang valid
2). Tidak mencantumkan alamat yang jelas
|
Likert
|
||
Memakai nama
dua perusahaan besar
|
1). Memakai nama ganda
2). Memakai nama perusahaan besar
|
Likert
|
||
2
|
Variabel
Y
|
Dimensi
|
Indikator
|
Skala
|
Perilaku
Masyarakat
(Rakhmat,2011:32-42)
|
Faktor
Biologis 2terlibat dalam seluruh
kegiatan manusia
|
1).Kebutuhan
akan informasi dari sebuah berita.
2).Kebutuhan
akan kelengkapan dari sumber.
|
||
Sosiopologis
: proses sosial yang mempengaruhi perilaku
|
1).Perasaan tidak senang dari
informasi tersebut.
2).Perasaan senang dari informasi
tersebut
|
|||
Sosiogenesis
: perilaku sosial yang sangat dibutuhkan.
|
1). Kebutuhan akan rasa aman kepada
anak.
2).
Kebutuhan kasih sayang
|
|||
Sikap
: sebagai kesiapan saraf , sebelum
memberikan respons.
|
1).Memahami
isi dari informasi
2).
Memahami jawaban yang akan diberikan
|
|||
Emosi
: membangkitkan dan membolisasi energi
kita
|
1). Perasaan
ingin marah dari ketidak benaran informasi
2).Perasaan ingin mengetahui semua
informasi nya
|
|||
Kepercayaan
: keyakinan bahwa sesuatu itu benar/ salah atas dasar bukti, sugesti,
pengalaman, intuisi
|
1).
Percaya dengan setiap informasi yang diberikan
2).
Keyakinan akan bukti dan penglaman
|
|||
Kebiasaan
: aspek perilaku manusia yang menetap, berlangsung secara otomatis tidak
direncanakan.
|
1).Kebiasaan
untuk selalu menerima semua informasi
2).kebiasaan menyimpulkan sendiri dari
setiap informasi tanpa mencari sumber yang benar
|
|||
Kemauan
: kemauan sebagai tindakan yang merupakan usaha seseorang untuk mencapai
tujuan.
|
1).Mencari
kebenaran dari setiap informasi yang diterima
2).mengumpulkan data informasi dari
sumber terpercaya
|
3.3 Populasi
dan Sampel Penelitian
Populasi
adalah keseluruhan subjek penelitian (Arikunto, 2010:173). Pupulasi dalam
penelitian ini adalah Masyarakat di Desa Kasih Raja kecamatan Lubuk Keliat
kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera Selatan. Dari uraian tersebut, maka
populasi dalam penelitian ini berjumlah 1655 orang (Sumber dari Pemerintahan
Desa Kasih Raja kecamatan Lubuk Keliat kabupaten Ogan Ilir Provinsi Sumatera
Selatan Tahun 2017) .
Teknik pengambilan sampling dalam
penelitian ini adalah dengan metode Purposive Sampling. Artinya responden
(subjek) yang dipilih secara sengaja dengan karakteristik usia semua pengguna
media sosial facebook di desa kasih
raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir provinsi sumatera selatan yang diyakini
representatif terhadap populasi penelitian. Untuk jumlah sampel diambil dengan
rumus Taro Yamane dalam Kriyantono, (2006:162) sebagai berikut :
n =
|
Keterangan
:
n = Jumlah Sampel
N = Jumlah Populasi
Presisi yang ditetapkan sebesar 0,1
Berdasarkan
populasi diketahui sebesar 1655 orang di desa kasih raja kecamatan lubuk
keliat, kabupaten ogan ilir, provinsi sumatera selatan. jadi besarnya sampel
yang digunakan adalah :
n
=
n
=
= 94,3 (94)
Berdasarkan
hasil perhitungan sampel diatas, maka diperoleh sampel penelitian ini
adalah atau (dibulatkan) pengguna media sosial facebook di desa kasih raja kecamatan
lubuk keliat, kabupaten ogan ilir, provinsi sumatera selatan.
3.4
Sumber Data
Sumber
data dalam penelitian ini adalah data primer dan data sekunder untuk lebih
jealsnya dapat diuraikan sebagai berikut :
a.
Sumber
Data primer
Sumber data primer berupa data yang
diperoleh peneliti dari lapangan secara langsung, maka dapat memperoleh data
primer pada penelitian ini peneltii menggunakan kuesioner mengenai Predaran
Berita Hoax di media sosial facebook dan perilaku masyarakat yang kemudian data tersebut
dianalisis guna mencapai tujuan penelitian ini.
b.
Sumber
Data Sekunder
Data sekunder dalam penelitian ini
berupa data tang diperoleh dari studi pustaka penulis lakukan dengan mencari
buku-buku dan bahan-bahan lain yang berhubungan dengan teori yang penulis
butuhkan, seperti tentang teori Stimulus Organisme Respon, Komunikasi,
Komunikasi massa, media sosial, facebook,
berita hoax dan prilaku masayarakat,
sealin itu data sekunder juga diperoleh dari dokumentasi merupakan suatu
caramengumpulkan data tertulis yang dibutuhkan dalam penelitian.
3.5 Metode Pengumpulan Data
Metode
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah menggunakan kuesioner. Kuesioner
adalah daftar pertanyaan yang diberikan kepada orang lain bersedia memberikan
respons (responden) sesuai dengan
permintaaan penggunaan (Ridwan, 2010:71). Pemberian angket yang berbentuk
pernyataan menggunakan skala likert dengan lima alternatif jawaban yakni: a.
(sangat setuju) dinilai 5, b. (setuju)
dinilai 4, c. (kurang setuju) dinilai 3, d. (tidak setuju) dinilai 2, dan
alternatif e. (sangat tidak setuju), dinilai 1.
3.6 Teknis
Analisis Data
3.6.1 Analisis Validitas dan Reliabilitas
Untuk
menentukan layak tidaknya instrumen tersebut dipergunakan dalam pengumpulan data
pada penelitian ini, maka uji coba instrumen ini melalui uji validitas dan
reliabilitas, yaitu sebagai berikut :
a.
Uji
Validitas Instrumen
Uji validitas pada
penelitian ini dilakukan dengan menghitung korelasi (pearson correlation) antara skor masing-masing butir angket dengan
total skorangket. Menilai kevalidan masing-masing butir pertanyaan dan dapat
dilihat dari nilai corrected item-total correlation dengan menggunakan propram SPPS versi
220. Suatu butir angket dikatakan valid jika nilai r-hitung
yang merupakana nilai dari corrected tem-total cerrelation
dari r-tabel, dengan angka kritis korelasi
tabel sebesar 5%. Rumus uji validitas instrumen dengan menggunakan korelasi product Moment, (Kriyantono,
2006:173) yaitu sebagai berikut
Keterangan
:
Koenfisien korelasi
Jumlah nilai setiap item angket
Jumlah nilai setiap responden
n
Jumlah sampel penelitian
b.
Uji Reliabilitas Instrumen
Suatu instrumen ialah reliabel sebagai
alat pengumpulan data apabila memberikan hasil ukuran yang sama terhadap suatu
gejala pada waktu yang berlainan. Berdasarkan uraian tersebut, pengujian
reliabilitas ini dianalisis dengan program SPSS
versi 23.0 dengan koefisien keandalan (Reliability)
sebesar 5% uji reliabilitas menggunakan metode Alpha :
Dimana :
Nilai Reliabilitas
Jumlah Varians skor tiap-tiap
Varians total
Jumlah item
Hasil uji reabilitas adalah apabila
nilai Alpha lebih besar dari pada
0,666 maka variabel dinyatakan reliabel (Riduan, 2013: 128).
3.6.2 Analis Statistik Deskriptif
Berdasarkan
hasil pengumpulan data masing-masing variabel, kemudian dianalisis secara
deskriptif dengan menggunakan program SPSS
versi 22.0. Untuk Mempermudahkan analisis ini sebelumnya diberikan skor
dengan penilaian sekala likert yang terdapat pada tabel dibawah ini.
Tabel 3.2
Pemberian Skor
Alternatif
Jawaban
|
Skor
|
Sangat
Setuju
Setuju
Kurang
Setuju
Tidak
Setuju
Sangat
Tidak Setuju
|
5
4
3
2
1
|
3.6.3 Analisis Hipotesis
3.6.3.1 Uji Regresi Linear Sederhana
Kegunaan regresi dalam
penelitian ini digunakan untuk meramalkan atau memprediksi variabel terikat (Y)
apabila variabel bebas (X) diketahui (Riduan, 2010:146). Teknis analisis ini
digunakan untuk mengetahui arah hubungan antara variabel independen dengan
variabel dependen apakah positif atau negatif dan untuk memprediksi nilai dari variabel dependen apabila nilai
independen mengalami kenaikan atau penurunan yang akan dianalisis menggunakan
program SPSS versi 22.0 , Rumus Regresi linear sederhana sebagai berikut :
Y = a + b X
Dimana : Y = Variabel Dependent
(terikat)
X = Variabel Independent
(bebas/tidak terikat)
a = Konstan
b = Koefisien Regresi
3.6.3.2 Uji Hipotesis
Uji Hipotesis adalah metode pengambilan
keputusan yang didasarkan dari analisis data, baik dari percobaan yang
terkontrol maupun observasi (tidak terkontrol).Untuk Mengetahui kebenaran dari
hipotesis dalam penelitian dengan menggunakan analisis uji t (uji koefisien
regresi sederhana) yang akan dianalisis menggunakan program SPSS versi 22.0. kriteria pengujian
hipotesis, yaitu sebagai berikut.
:
Terdapat pengaruh peredaran berita hoax
penculikan anak di media sosial facebook
terhadap perilaku masyarakat di desa kasih raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir
provinsi.sumatera selatan.
: Tidak
terdapat pengaruh peredaran berita hoax
penculikan anak di media sosial facebook
terhadap perilaku masyarakat di desa kasih raja kec.lubuk keliat kab.ogan ilir
provinsi.sumatera selatan.
Kriteria pengujian hipotesis
apabila dilihat berdasarkan SPSS pada
taraf signifikan 0,05 dengan derajat kebebasan (N-2) Sebagai berikut :
: diterima jika
0,05
Atau
: diterima jika
0,05
:
diterima
jika
:
diterima jika
3.7 Waktu dan Tempat penelitian
Penelitian
ini dilakukan di Desa Kasih Raja Kecamatan Lubuk Keliat, kabupaten Ogan Ilir
Provinsi Sumatera Selatan yang akan dilaksanakan dari bulan April 2017 sampai
Oktober 2017.
3.8
Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian ini
dimulai dengan persiapan hingga pelaksanaan penelitian, konsultasi serta
perbaikan tulisan hasil penelitian yang melalui beberapa tahapanseperti yang
tertera dalam penelitian ini.
Tabel 3.3 Jadwal
Pelaksanaan Penelitian
No.
|
Kegiatan
|
Tahun 2017
|
|||||||||
04
|
05
|
06
|
07
|
08
|
09
|
10
|
|||||
1
|
Persiapan pembuatan
proposal
|
||||||||||
2
|
Seminar proposal dan
perbaikan
|
||||||||||
3
|
Penelitian lapangan
|
||||||||||
4
|
Pengelolahan data dan
penyusunan laporan hasil penelitian
|
||||||||||
5
|
Ujian Komprehensif
dan perbaikan
|
||||||||||
DAFTAR
PUSTAKA
Buku :
Arikunto,
S . 2013. Prosedur Penelitian Pendekatan
Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
_______,
S . 2014. Prosedur Penelitian Pendekatan Praktik. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Cangara,
Hapid.2011. Pengantar Ilmu Komunikasi.
Jakarta : PT. RajaGrafindo Persada.
Hunt.
L. Chester. 2003. Komunikasi Organisasi.Jakarta:
Bumi Aksara.
Kriyantono,
Rahmat. 2008. Teknik Praktis riset
Komunikasi. Jakarta : Pernada Media grouf.
Lasswell,
2003. Teori Komunikasi. Jakarta:
Salemba Humanika.
Mcquail,
Dennis. 1987. Teori Komunikasi Massa.
Jakarta : Erlangga.
Muhammad
Arni, 2014. Komunikasi Organisasi.Jakarta
: Bumi Aksara.
.Rakmat,
Jalaludin.2011. Psikologi Komunikasi.
Bandung : PT. Remaja Rosdakarya Offset.
Riduan,
2014. Dasar-Dasar Statistika. Bandung
: Alfabeta.
Nasrullah,2017.Media Sosial.Bandung : PT.Remaja
Rosdakarya.
Sugiyono,
2011. Metode Penelitian Kombinasi
(Mixed Methods). Bantung : Alfabeta.
_______,
2013. Metode Penelitian Kombinasi .
Bantung : Alfabeta.
_______,
2014. Metode Penelitian Kombinasi.
Bantung : Alfabeta.
West
Ricard dan Lyyn H. Turner, 2009. Teori
Komunikasi. Jakarta: Salembah Humanika.
Internet :
DATABOKS.2015.
Kasus Penculikan Anak di Sumsel.
Diakses pada 16 Juni 2017
Effendy.2013.
melalui :
Harley,
David. 2008. Common Hoaxes and chain letters melalui :
Jejaring
Sosial. Melalui :
http://apry199.student.umm.ac.id/2011/1/09/29/dampakpositif-negatif-facebook-untuk kalanganremaja.
Diakses pada 16 Agustus 2017
KBBI,
Penculikan-anak. Di akses pada 8 mei
2017.
JAKARTA, KOMPAS.com. Diakses Pada 8 mei
2017.
UUD. RI. No.4 : 1979 “Tentang Kesejahteraan anak . Pasal I
AYAT (2). Diakses pada 8 Mei 2017.
ciri-ciri berita hoax menurut pakar ilmu
hukum komunikasi melalui :
Koranaktual.com.indo.7-ciri-berita-hoax.2017/05/02.
Di akses pada 14 Agustus 2017.
Maslow,(1987). Defenisi Hoax dan ciri-cirinya.
http//.www.hoaxbusters.org//hoax10.html.
Diakses pada 6 Mei 2017.
Jurnal
:
Budi
Mansyah. 2017.“Fenomena Berita Hoax Media
Sosial Facebook Dalam Menghadapi Pemilihan Umum Gubernur DKI Jakarta Tahun
2017”. Tanpa Terbitan. Mercu Buana. Di akses pada 13 Agustus 2017
Clara
Novita A. 2015. “Literasi Media Baru Dan Penyebaran Berita Hoax. Tanpa
Terbitan. Gadjah Mada.
http://www.contoh.skirpsi/pengaruhfacebook
-terhadap-edit. Di akses pada 8 mei 2017
Clara
Novita A. 2015.
http://www.scribd.com/doc/MAKALAH-LITERASI-MEDIA.
Diakses pada 9 Mei 2017.
Feranita, F. 2017.” Pengaruh Media Sosial Facebook Terhadap
Hasil belajar Akidah Akhlak di MA Syamsul Ulum Kota Suka Bumi Jawa Barat”
Tanpa Terbitan. IAIN Raden Intan lampung. Diakses pada 16 Mei 2017
Langganan:
Postingan (Atom)